Blogroll

SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf
SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf

Minggu, 05 Februari 2012

BIMBINGAN KONSELING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

BIMBINGAN KONSELING ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pusat dari sistem interpersonal dalam tiap kehidupan seseorang adalah keluarga. Seorang bayi belajar bagaimana hidup dan menerima kehidupan itu melalui interaksinya dalam keluarga. Interaksi seseorang di masa depan memperlihatkan intensitas ikatan emosi dan kepercayaan dasar terhadap diri dan dunia luar yang dihasilkan pada interaksi awal dalam keluarga (Framo, 1976, dalam Kendall, 1982:517). Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak, dimana keluarga memiliki peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Di dalam keluarga seringkali terjadi permasalahan yang muncul baik dari luar mapun dari dalam keluarga itu sendiri. Salah satu dari adanya masalah keluarga adalah anak. Banyak faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi masalah di dalam sebuah keluarga. Kesalahan pendidikan dari orang tua meupun faktor lingkungan anak yang kurang kondusif dapat mengakibatkan permasalahan di dalam keluarga. Sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khususpun seringkali menjadi sebuah masalah dalam keluarga. Layanan bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam keluarga. Dalam bimbingan keluarga mengupayakan pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keliarga, serta berperan atau berpartisipasi aktif dalam mencapai keluarga yang bahagia. B. Batasan masalah 1. Konsep dasar mengenai bimbingan dan konseling 2. Konsep dasar mengenai perkembangan keluarga 3. Konsep dasa dan pendekatan mengenai konseling keluarga C. Tujuan Pembuatan Makalah 1. Mengetahui konsep dasar bimbingan dan konseling 2. Mengetahui konsep dasar tentang konseling keluarga, tujuan serta prinsip konseling keluarga. 3. Mengetahui konsep dasar tentang perkembangan keluarga 4. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konseling Anak Berkebutuhan Khusus D. Sistematika Pembuatan Makalah KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II ISI A. Konsep Dasar 1. Bimbingan dan Konseling a. Pengertian Bimbingan dan Konseling b. Fungsi Bimbingan dan Konseling c. Jenis-jenis Bimbingan dan Konseling 2. Perspektif Perkembangan Keluarga a. Pengertian Keluarga b. Perkembangan Keluarga c. Keluarga sebagai Sistem Psikososial B. Konseling Keluarga (Family Konseling) 1 Pengertian Konseling Keluarga 2. Tujuan dan Prinsip Konseling Keluarga 3. Landasan-landasan Sejarah dan Praktik Kontemporer Konseling keluarga a. Sejarah dan Perkembangan Konseling Keluarga b. Pendekatan dalam Konseling keluarga  Pendekatan Psikodinamik  Pendekatan Humanistik/Eksperensial  Pendekatan Bowen  Pendekatan Struktural  Pendekatan Strategis atau Komunikasi  Pendekatan Behavioral 4. Peran Intervensi pada Konseling Keluarga 5. Proses Konseling C. Penelitian, Latihan, dan Praktik Profesional BAB III ANALISIS MATERI BAB IV KESIMPULAN Lampiran soal BAB II ISI A. Konsep Dasar 1. Bimbingan dan Konseling a. Pengertian Bimbingan dan Konseling Pada dasarnya, bimbingan merupakan pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu. Bimbingan merupakan suatu alat untuk mendewasakan anak. Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya. Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab b. Fungsi dan Tujuan Bimbingan dan Konseling Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat : 1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupan pada masa yang akan datang. 2. mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin. 3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya. 4. mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerjanya. Fungsi bimbingan yaitu sebagai berikut: 1. fungsi pengembangan, merupakan fungsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu 2. fungsi penyaluran, merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. 3. fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya guru atau dosen, wydiaiswara, dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu. 4. fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dari perkembangannya secara optimal. Tujuan Konseling pada umumnya dan disekolah khususnya adalah sebagai berikut: 1. mengadakan perubahan perilaku pada diri individu sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. 2. memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif 3. penyelesaian masalah 4. mencapai keefektifan pribadi 5. mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya c. Jenis-Jenis Bimbingan Jenis bimbingan dibagi menjadi empat bagian yaitu: 1. bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik. 2. bimbingan sosial pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial pribadi. 3. bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, mengembangkan, dan menyelesaikan masalah-masalah karier, seperti pemahaman terhadap tugas-tugas kerja. 4. bimbingan keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mapu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdaya diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan serta berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia. 2. Perspektif Perkembangan Keluarga a. Pengertian Keluarga Keluarga merupakan satuan terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Secara lebih luas (Sayekti Puja Suwarno 1994 : 2) bahwa keluarga merupakan suatu ikatan dasar atas dasar perkawinan antara dua orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama antara seorang laki-laki dengan perempuan yang sudah mempunyai anak atau tanpa anak baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Disamping itu Emil Salim 1983 menyatakan bahwa keluarga merupakan bagian terkecil dari susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam mewujudkan suatu negara. Menurut pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri (Soelaeman 1994 : 5-10). Sedangkan dalam pengertian Pedadogis keluarga adalah “satu” persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang kukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi sebagai orang tua (Soelaeman 1994 : 12). b. Kerangka Berfikir Tentang Keluarga Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah, berfungsi membentuk aturan-aturan, komunikasi, dan negosiasi diantara para anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola interaksi yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggotanya. Strategi-strategi konseling keluarga terutama membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga, juga dituntut untuk memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami perubahan. Dalam perspektif hubungan, konselor keluarga tidak menghilangkan signifikansi proses intrapsikis yang sifatnya individual, tetapi menempatkan perilaku individu dalam pandangan yang lebih luas. Dengan demikian, ada perubahan paradigma dari cara-cara tradisional dalam memahami perilaku manusia kedalam epistimologi cybernetic. Paradigma ini menekankan mekanisme umpan balik beroperasi dalam menghasilkan stabilitas serta perubahan. Kausalitas sirkuler terjadi didalam keluarga. Konselor keluarga lebih memfokuskan pemahaman proses keluarga daripada mencari penjelasan-penjelasan yang sifatnya linier. Dalam kerangka kerja seperti ini, simptom yang ditunjukan pasien dipandang sebagai cerminan dari sistem keluarga yang tidak seimbang c. Perkembangan Keluarga Satu cara untuk memahami individu-individu dan keluarga mereka, yaitu dengan cara meneliti perkembangan mereka lewat siklus kehidupan keluarga. Berkesinambungan dan berubah merupakan ciri dari kehidupan keluarga. Sistem keluarga itu mengalami perkembangan setiap waktu. Perkembangan keluarga pada umumnya terjadi secara teratur dan bertahap. Apabila terjadi kemandegan dalam keluarga, hal itu akan mengganggu sistem keluarga. Kemunculan perilaku simptomatik pada anggota keluarga pada saat transisi dalam siklus kehidupan keluarga menandakan keluarga itu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dengan perubahan. Siklus kehidupan keluarga mengarah pada suatu pengaturan tema mengenai pandangan bahwa keluarga itu sebagai sistem yang mengalami perubahan. Ada tugas-tugas perkembangan khusus yang harus dipenuhi untuk setiap perkembangannya. Dalam keluarga, laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan perbedaan harapan peranan, pengalaman, tujuan, dan kesempatan. Perbedaan jenis kelamin ini, kelak mempengaruhi interaksi suami istri. Banyaknya perempuan yang memasuki dunia kerja akhir-akhir ini mempengaruhi juga tradisi peran laki-laki dan perempuan mengenai tanggung jawab rumah tangga dan kerja di luar rumah. Kesukuan dan pertimbangan sosio-ekonomi juga mempengaruhi gaya hidup keluarga. Terlebih dahulu, hal yang harus diperhatikan adalah membantu menentukan bagaimana keluarga itu membentuk nila-nilai, menentukan pola-pola perilaku, dan menentukan cara-cara mengekspresikan emosi, serta menentukan bagaimana mereka berkembang melalui siklus kehidupan keluarga. Hidup dalam kemiskinan dapat mengikis struktur keluarga dan menciptakan keluarga yang tidak terorganisasi. Dalam keluarga miskin, perkembangan siklus kehidupan sering dipercepat oleh kehamilan dini dan banyaknya ibu-ibu yang tidak menikah. Tidak adanya ayah dirumah memungkinkan nenek, ibu dan anak perempuan itu lebih saling berhubungan. d. Keluarga Sebagai Sisten Psikososial Teori sistem umum memberikan dasar teoritis pada teori dan praktik konseling keluarga. Konsep-konsep menegnai organisasi dan keutuhan menekankan secara khusus, bahwa sistem itu beroperasi secara utuh terorganisasi. Sistem tidak dapat dipahami secara tepat jika dibagi kedalam beberapa komponen. Keluarga mencerminkan sistem hubungan yang komplit, terjadi kausalitas sikuler dan multidimensi. Peran-peran keluarga sebagian besar tidak statis, perlu dipahami oleh anggota keluarga untuk membantu memantapkan dan mengatur fungsi keluarga. Keseimbangan dicapai dalam keluarga melalui proses interaksi yang dinamis. Hal ini membantu memulihkan stabilitas yang sewaktu-waktu terancam, yaitu dengan pengaktifan aturan yang menjelaskan hubungan-hubungan. Pada saat perubahan keluarga terjadi, siklus umpan balik positif dan negatif membantu memulihkan keseimbangan. Subsistem-subsistem dalam keluarga melakukan fungsi-fungsi keluarga secara khusus. Hal terpenting dan berarti adalah subsistem suami istri, orang tua, dan saudara kandung. Batas-batas sistem membantu memisahkan sitem-sistem, sebaik memisahkan subsistem-subsitem di dalam sistim secara keseluruhan. Sistem-sistem keluarga berinteraksi dengan sistem-sistem yang lebih besar lagi di luar rumah, seperti sistem tempat peribadatan, sekolah dan tempat perawatan. Dalam beberapa kasus, terjadi pengaburan masalah-masalah keluarga dan pertentangan penyelesaian dari para pemberi bantuan dalam sistem makro. Dalam konteks yang lebih luas, batas-batas diantara para pemberi bantuan sama baiknya dengan batas-batas diantara keluarga klien. Batas-batas itu mungkin perlu dijelaskan dalam sistem makro agar beroperasi secara efektif. B. Konseling keluarga (Family Counseling) 1. Pengertian Konseling Keluarga Family Counseling (konseling keluarga) didefinisikan sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostasis, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman (comfortable). 2. Tujuan dan Prinsip Konseling Keluarga Prinsip-prinsip konseling keluarga 1. Bukan metode baru untuk mengatasi human problem. 2. Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain. 3. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus diubah. 4. Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri. 5. Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri. 6. Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”. 7. Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen merupakan penyelesaian yang buruk. 8. Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center) (Perez,1979). Tujuan Konseling Keluarga 1. Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga. 2. Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengalami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya. 3. Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga. 4. Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga (Perez, 1979). 3. Landasan-landasan Sejarah dan Praktik Kontemporer Konseling keluarga a. Sejarah dan Perkembangan Konseling Keluarga Konseling keluarga ini distimuli oleh penelitian mengenai keluarga yang anggotanya mengalami schizophrenia. Konseling keluarga berkembang mencapai kemajuan pada tahun 1950-an. Pada tahun 1960-an, para pelopor konseling keluarga memutuskan untuk bekerja sama dengan para konselor yang berorientasi individual. Teknik-teknik dalam konseling keluarga berkembang dengan pesat memasuki tahun 1970-an. Inovasi teknik terapeutik diperkenalkan termasuk pendekatan behavioral yang dikaitkan dengan masalah-masalah keluarga. Pada tahu 1980-an, konseling perkawinan dan konseling keluarga menjadi satu. Para praktisi dari berbagai disiplin keahlian menjadikan konseling keluarga sebagai ciri propesional mereka. Pada saat sekarang, konseling keluarga lebih menekankan penanganan masalah-masalah secara kontekstual daripada secara terpisah dengan individu-individu. Tantangan yang dihadapi oleh konseling keluarga pada tahun 1980-an adalah mengintegrasikan berbagai pendekatan konseling keluarga dan menggunakan kombinasi-kombinasi dari teknik-teknik yang dibutuhkan untuk populasi-populasi yang berbeda. b. Pendekatan dalam Konseling keluarga  Pendekatan Psikodinamik Sebagian besar, pandangan psikodinamik berdasar pada model psikoanalisis, memberikan perhatian terhadap latar belakang dan pengalaman setiap anggota keluarga sebanyak pada unit keluarga itu sendiri. Para konselor psikodinamik menaruh perhatian yang tinggi terhadap masa lalu yang melekat pada individu-individu, dalam model psikodinamik, pasangan suami istri yang menderita dikaitkan dengan introjeksi pathogenic setiap pasangan yang membawanya pada hubungan. Nathan Acherman, pelopor konselor keluarga berupaya mengintegrasikan teori psikoanalitik yang berorientasi pada intrapsikis dengan teori sistem dengan menekankan hubungan antarpribai. Dia memandang ketidakberfungsian keluarga akibat hilangnya peran yang saling melengkapi diantara para anggota, akibat konflik yang tetap tidak terselesaikan, dan akibat korban yang merugikan. Upaya-upaya teurapetiknya bertujuan untuk membebaskan ”pathologis” yang berpautan satu sama lain. James Framo, konselor keluarga generasi pertama, meyakini bahwa konflik intrapsikis yang tidak terselesaikan dibawa dari keluarganya, diteruskan dalam bentuk proyeksi kedalam hubungan-hubungan yang terjadi pada saat ini, seperti hubungan suami istri atau anak. Dengan menggunakan pendekatan hubungan objek, Framo berusaha menghilangkan introjeksi-introjeksi. Dalam proses ini, dia berbicara dengan pasangan suami istri itu sendirian, kemudian memasuki kelompok pasangan suami istri, dan akhirnya mengadakan pertemuan-pertemuan secara terpisah dengan setiap pasangan dan anggota keluarganya yang asli. Ivan Boszormenyi-Nagy dan kelompoknya memfokuskan pada pengaruh masa lalu terhadap fungsi-fungsi sekarang dalam seluruh anggota keluarga. Dalam pandangan ini, keluarga mempunyai loyalitas yang invisible (tidak tampak), kewajiban-kewajiban yang berakar pada generasi lalu, dan perhitungan-perhitungan yang tidak menentu. Hal-hal seperti itu perlu diseimbangkan atau ditata. Pendekatan teraputik kontekstual dari Boszormenyi-Nagy berupaya untuk menata kembali tanggung jawa, perilaku yang terpercaya, dan memperhitungkan hak-hak dari seluruh kepeduliannya. Robin Skynner berpendapat, bahwa orang dewasa yang mengalami kesulitan berhubungan telah mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap orang lain dengan cara membentuk sistem-sistem projeksi yang dikaitkan dengan kekurangan-kekurangan pada masa kanak-kanak. Upaya terapeutik Skinner, yaitu secara khusus mengembankan versi berupaya memfasilitasi perbedaan-perbedaan diantara pasangan-pasangan perkawinan. Dengan demikian, setiap pasangan menjadi lebih independent. John Bell, pendiri konseling keluarga mendasarkan pendekatannya pada teori-teori psikologis sosial tentang perilaku kelompok kecil. Pendekatan konseling kelompok keluarga mempromosikan interaksi; memfasilitasi komunikasi, menjelaskan, dan menafsirkan. Pada tahun-tahun sekarang ini, Bell mengarahkan perhatiannya untuk membantu menciptakan lingkungan-lingkungan keluarga meningkat dengan menggunakan teknik-teknik intervensi yang ia sebut dengan konseling kontekstual. Pendekatan ini menggunakan cara dan strategi psikoterapi individual dalam situasi Keluarga dengan: - mendorong munculnya insight tentang diri sendiri dan anggota keluarga. - untuk membantu keluarga dalam pertukaran emosi Kontak konselor hanya sementara dan konselor akan menarik diri jika keluarga telah mampu mengatasi problemnya secara konstruktif.  Dasar Pemikiran Proses unconsciousness (bawah sadar) mempengaruhi hubungan kebersamaan antaranggota keluarga dan mempengaruhi individu dalam membuat keputusan tentang siapa yang dia nikahi. Objects ( orang-orang yang penting / signifikan dalam kehidupan) diidentifikasi atau ditolak. Kekuatan unconsciousness benar-benar dianggap sangat berpengaruh.  Peranan Konselor : Seorang guru dan interpreter pengalaman (analisis).  Treatment : individual , kadang-kadang dengan keluarga  Tujuan Treatment : Untuk memecahkan interaksi yang tidak berfungsi dalam keluarga yang didasarkan pada proses unconsciousness (bawah sadar), untuk merubah disfungsional individu.  Teknik : Transference, analisa mimpi, konfrontasi, focusing pada kekuatan-kekuatan, riwayat hidup.  Aspek-aspek yang unik : Konsentrasi pada potensi unconsciousness (bawah sadar) dalam perilaku individu,mengukur defence mechanism (mekanisme pertahanan diri) yang dasar dalam hubungan keluarga, menyarankan treatment mendalam pada disfungsionalitas (ketidakmampuan berfungsi).  Pendekatan Eksperensial atau Humanistik Para konselor keluarga eksperensial atau humanistik menggunakan ”immediacy” terapeutik dalam menghadapi anggota-anggota keluarga untuk membantu memudahkan keluarga itu berkembang dan memenuhi potensi-potensi individunya. Pada dasarnya, pendekatan ini tidak menekankan pada teoritis dan latar belakang sejarah. Pendekatan ini lebih menekankan pada tindakan daripada wawasan dan interpretasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman-pengalaman dalam meningkatkan perkembangan, yaitu melalui interaksi antara konselor dan keluarga. Praktisi utama pendekatan eksperensial adalah Carl Whitaker dan Walter Kempler. Dalam kerjanya, Whitaker menekankan perlunya memperhatikan hambatan-hambatan intrapsikis dan hubungan antarpribadi dalam mengembankan dan mematangkan keluarga. Pendekatan konseling keluarga sering melibatkan ko-konselor, pendekatanya dirancang untuk menggunakan pengalaman-pengalaman nyata dan simbolis yang muncul pada saat proses terapeutik. Dia mengakui, bahwa intervensinya sebagian besar dikendalikan oleh ketidaksadarannya. Whitaker memperkenalkan ” konseling yang tidak masuk akal ” dirancang untuk mengejutkan, membingungkan, dan akhirnya menggerakkan sistem keluarga yang terganggu. Kempler, seorang praktisi dari konseling keluarga Gestalt membimbing individu-individuuntuk mengatasi hal-hal yang akan memperdayakan dirinya di luar kebiasaanya, serta mempertahankan dirinya. Dia mengkonfrontasikan dan menantang seluruh anggota keluarga untuk mengeksplorasi sebagaimana kesadaran diri mereka sendiri terhambat dan bagaimana menyalyrkan kesadaran mereka ke dalam hubungan yang lebih produktif dan terpenuhi dengan anggota lainnya. Konselor keluarga terkenal yang berorientasi pada humanistik adalah Virginia Satir. Dalam pendekatannya, dia memadukan kesenjangan komunikasi antara anggota keluarga dan orientasi humanistik dalam upaya membangun harga diri dan penilaian diri seluruh anggota keluarga. Dia meyakini, bahwa dalam diri manusia terdapat sumber-sumber yang diperlukan manusia untuk berkembang. Dia memandang tugasnya sebagai orang yang membantu manusia memperoleh jalan untuk memelihara potensi-potensinya mengajarkan manusia menggunakan potensinya secara efektif.  Dasar pemikiran Masalah-masalah keluarga berakar dari perasaan-perasaan yang di tekan, kekakuan, penolakan / pengabaian impuls-impuls, kekurangwaspadaan, dan kematian emosional.  Peran konselor Konselor menggunakan pribadinya sendiri. Mereka harus terbuka, spontan, empatic, sensitive dan harus mendemonstrasikan perhatian dan penerimaan. Mereka harus memperlakukan dengan terapi regresi dan mengajari anggota keluarga keterampilan-keterampilan baru dalam mengkomunikasikan perasaan-perasaan secara gamblang.  Unit Treatment Difocuskan pada individu dan ikatan-ikatan pasangan. Whitaker mengkonsentrasikan perhatiannya dengan mempelajari tiga generasi keluarga.  Tujuan Treatment Untuk mengukur pertumbuhan, perubahan, kreativitas, fleksibilitas, spontanitas dan playfulness, untuk membuat terbuka apa yang tertutup, untuk mengembangkan ketertutupan emosional dan mengurangi kekakuan, untuk membuka defence-defence, serta untuk meningkatkan self-esteem.  Teknik Memahat keluarga dan koreografi , keterampilan-keterampilan komunikasi terbuka, humor, terapi, seni, keluarga, role-playing, rekonstruksi keluarga, tidak memperhatikan teori-teori dan menekankan pada intuitive spontan, berbagi perasaan dan membangun atmosfer emosional mendalam dan memberi sugesti-sugesti serta arahan-arahan.  Aspek-aspek unik Mempromosikan kreativitas dan spontanitas dalam keluarga, mendorong anggota-anggota keluarga untuk mengubah peran mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri dan pengertian pada yang lain, humanistik dan memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan status yang sama, mengembangkan kewaspadaan perasaan di dalam dan diantara anggota keluarga, mendorong pertumbuhan.  Pendekatan Bowen Pendekatan Murray Bowen terkenal dengan teori sistem keluarga. Pendekatan ini dianggap sebagai sesuatu yang menjebatani pendangan-pandangan yang berorientasi psikodinamik dengan pandangan-pandangan yang lebih menekankan pada sistem. Bowen mengkonseptualisasikan keluarga sebagai sistem hubungan emosional. Bowen mengemukakan, ada delapan konsep yang saling berpautan dalam menjelaskan proses emosional yang terjadi dalam keluarga ini dan keluarga yang diperluas. Landasan dasar teori Bowen adalah konsep diferensial diri. Konsep ini berkembang di mana anggota keluarga dapat memisahkan fungsi intelektualnya dengan emosionalnya. Mereka menghindari fusi dan sewaktu-waktu emosi mendominasi keluarga. Dalam keadaan tegang, hubungan dua anggota keluarga mempunyai kecenderungan untuk mencari anggota yang ketiga (melakukan triangulasi) untuk menurunkan intensitas ketegangan dan memperoleh kembali kestabilan. Sistem emosional keluarga inti, biasanya dibentuk oleh pasangan-pasangan perkawinan yang mempunyai kemiripan tingkat diferensiasi. Jika sistem tidak stabil, para pasangan mencari cara untuk mengurangi ketegangan dan memelihara keseimbangan. Posisi saudara kandung orang tua dalam keluarga asal mereka memberikan tanda terhadap anak yang dipilihnya dalam proses projeksi keluarga. Bowen menggunakan konsep emosional cutoff untuk menjelaskan bagaimana sebagian anggota keluarga berupaya memutuskan hubungan dengan keluarga mereka atas anggapan yang keliru bahwa mereka dapat mengisolasi diri mereka dari fusi. Posisi saudara kandung dari setiap pasangan perkawinan akan mempengaruhi interaksi mereka. Dalam pengembangan teorinya terhadap masyarakat yang lebih luas, Bowen percaya bahwa tekanan-tekanan eksternal yang kronis merendahkan tingkat berfungsinya diferensiasi masyarakat, hal itu hsil pengaruh regresi masyarakat. Sebagai bagian konseling keluarga sistem Bowen, wawancara evaluasi keluarga menekankan objektivitas dan netralitas. Genogram-genogram itu membantu memberikan gambaran tentang sistem hubungan keluarga kurang lebih tiga generasi. Secara terapeutik, Bowen bwkwerja secara hati-hati dan tenang dengan pasangan-pasangan perkawinan, berupaya mengatasi fusi diantara mereka. Tujuannya adalah mengurangi kecemasan dan mengatasi simptom-simptom. Tujuan akhirnya adalah memaksimalkan diferensi diri setiap orang di dalam sistem keluarga inti dan dari keluarga asalnya.  Peran Konselor Aktivitas konselor sebagai pelatih dan guru dan berkonsentrasi pada isu-isu keterikatan dan diferensiasi.  Unit Treatment : individu atau pasangan.  Tujuan konseling Untuk mencegah triangulasi dan membantu pasangan dan individu berhubungan pada level cognitive, untuk menghentikan pengulangan pola-pola intergenerasi dalam hubungan keluarga.  Teknik : Genograms, kembali ke rumah, detriangulasi, hubungan orang perorang, perbedaan self.  Aspek unik : Mengukur hubungan-hubungan intergenerasi dan pola-pola yang diulang, systematic, dalam teori yang mendalam.  Pendekatan Struktural Pendekatan struktural dalam konseling keluarga terutama dikaitka dengan Salvador Minuchin dan koleganya di pusat Bimbingan Anak Philadelphia. Pendekatan ini dilandasi sistem. Teori konseling keluarga memfokuskan pada kegiatan, keseluruhan yang terorganisasi dari unit keluarga, dan cara-cara di mana keluarga mengatur dirinya sendiri melalui pola-pola transaksional diantara mereka. Secara khusus, sistem-sistem keluarga, batas-batas, blok-blok, dan koalisi-koalisi ditelaah dalam upaya memahami struktur keluarga. Tidak berfungsinya struktur menunjukkan, bahwa aturan-aturan yang tidak tampak yang membangun transaksi keluarga tidak berjalan atau mebutuhkan negosiasi kembali aturan-aturan. Konseling keluarga struktural dilengkapi untuk transaksi sehari-hari dan memberikan prioritas tinggi terhadap tindakan daripada wawasan atau pemahaman. Seluruh perilaku termasuk simptom-simptom yang ditunjukkan pasien dipandang dalam konteks struktur keluarga. Permulaan keluarga memberikan teknik pengamatan sederhana terhadap peta pola-pola transaksi keluarga. Intervensi- intervensi Minuchin tersebut adalah aktif, penuh perhitungan, berupaya untuk mengubah kekakuan, kuno, atau tidak melaksanakan struktur. Dengan kerja sama keluarga dan keamahan, dia memperoleh pemahaman tentang masalah-masalah keluarga, membantu mereka mengubah susunan keluarga yang tidak berfungsi dan menata kembali organisasi keluarga. Enactments (menyuruh keluarga menunjukkan situasi-situasi konflik khusus dalam sesi konseling) dan reframing (menjelaskan kembali suatu masalah sebagai suatu masalah sebagai suatu fungsi dari struktur keluarga) adalah teknik-teknik terapeutik yang sering digunakan. Teknik-teknik tersebut membawa perubahan struktur keluarga. Tujuan akhir konseling adalah menyusun kembali aturan-aturan transaksi keluarga dengan mengembangkan lebih tepat lagi batas-batas diantara sub-sub sistem dan memperkuat aturan hierarki keluarga.  Dasar pemikiran Suatu patologi keluarga muncul akibat dari perkembangan rekasi yang disfungsional. Fungsi-fungsi keluarga meliputi struktur keluarga, sub-systems dan keterikatannya. Peraturan-peraturan tertutup dan terbuka dan hirarki-nya harus dimengerti dan dirubah untuk membantu penyesuaian keluarga pada situasi yang baru.  Peran Konselor Konselor memetakan aktivitas mental dan kerja keluarga dalam sesi konseling Seperti sutradara teater, mereka memberi instruksi pada keduanya untuk berinteraksi melalui ajakan-ajakan dan rangkaian aktivitas spontan.  Unit treatment Keluarga sebagai satu system atau sub-system, tanpa mengabaikan kebutuhan individu.  Tujuan Mengungkap perilaku-perilaku problematik sehingga konselor dapat mengamati dan membantu mengubahnya ; untuk membawa perubahan-perubahan struktural didalam keluarga ; seperti pola-pola organisasional dan rangkaian perbuatan.  Teknik Kerjasama, akomodating, restrukturusasi, bekerja dengan interaksi (ajakan, perilaku-perilaku spontan), pendalamam, ketidakseimbangan, reframing, mengasah kemampuan dan membuat ikatan-ikatan.  Aspek-aspek unik Yang utama adalah membangun keluarga-keluarga dengan sosioekonomis yang rendah, sangat pragmatis, dipengaruhi oleh profesi psikiatri untuk menghargai konseling keluarga sebagai suatu pendekatan treatment; dengan prinsip-prinsip dan teori-nya Minuchin dkk, efektif untuk keluarga dari para pecandu, para penderita gangguan makan dan bunuh diri, penelitian-penelitian yang baik, systematis, masalah difokuskan untuk masa sekarang, umumnya dilaksanakan kurang dari 6 bulan, konselor dan keluarga sama-sama aktif.  Pendekatan Strategis atau Komunikasi Teori-teori komunikasi, muncul dari penelitian Lembaga Penelitian Mental (MRI) di Palo Alto pada tahun 1950-an. Teori-teori komunikasi ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap konseling keluarga dengan menyusun kembali maslah-masalah manusia sebagai masalah interaksi dan sifatnya situasional. Epistimoligi dari Beteson, Jakson, dan yang lain merupakan dasar bagi upaya-upaya terapeutik dari MRI, konseling keluarga strategis yang dikembangkan oleh Haley dan Madanes, dan pendekatan sistematik dari Selvini-Pallazzoli dan tim Milan. Karakteristik khusus pendekatan ini menggunakan doube binds terapeutik atau teknik-teknik paradoksial ini menggunakan aturan-aturan keluarga dan pola-pola hubungan. Paradocks kontradiksi yang mengikuti deduksi yang tepat dari premis-premis yang konsisten digunakan secara terapeutik untuk mengarahkan individu atau keluarga yang tidak mau berubah sesuai dengan apa yang diharapkan. Prosedur ini mempromosikan perubahan tersebut bukan dalam bentuk tindakan atau penolakan. Jkcson, Watzlawick, dan ahli strategis lainnya menggunakan ”precribing” simptom-simptom sebagai teknik paradoks untuk mengurangi penolakan berubah dengan mengubah simptomnya itu tidak berguna. Pendekatan konseling keluarga strategis ditandai oleh taktik-taktik yang terencana dan hati-hati, serta langsung menangani masalah-masalah keluarga yang ada. Haley sangat memengaruhi para praktisi dalam menggunakan perintah-perintah atau penyelesaian tugas-tugas sebaik intervensi-intervensi paradoksional yang sifatnya tidak langsung. Madanes, konselor keluarga strategis lainnya menggunakan teknik-teknik ”pretend” (menganggap diri) dan intervensi-intervensinya yang tidak konfrontattif diarahkan pada tercapainya perubahan tanpa mengundang penolakan. Konseling keluarga sistematis yang dipraktikan group Milan, tekniknya didasarkan pada epistimologi sirkuler dari Bathson. Teknik-tekniknya mengalami sejumlah perubahan dalam beberapa tahun berikutnya dan melanjutkannya dengan menyajikan teknik-teknik baru. Berdasarkan prosedur ”long brief therapy” yang setiap pertemuannya mempunyai jarak kurang lebih satu bulan, keluarga itu ditangani oleh tim yang bersama-sama merencanakan strategi. Satu atau dua orang konselor bekerja secara langsung dengan keluarga, sementara konselor yang lainnya mengamati dari belakang kaca yang satu arah. Keluarga itu dibei tugas-tugas dalam setiap peremuannya, biasanya didasarkan pada perintah-perintah yang sifatnya paradoks. Tujuan dari model Milan, yaiotu memberikan ”informasi” supaya keluarga mengubah aturan-aturan, mengubah kesalah yang berulang-ulang mengenai permainan-permainan yang menggagalkan diri. Pendekatan Milan beranggapan, bahwa pesan-pesan paradoksial dari keluarga hanya dapat dihadapi oleh counterparadox terapeutik. Kelompok Milan telah memperkenalkan sejumlah teknik wawancara, seperti hypothesizing, pertanyaan sirkuler, netralitas, konotasi positif, dan ritual-ritual keluarga. Menurut Jay Haley dan Cloe Madanes; keluarga bermasalah akibat dinamika dan Orang dan keluarga dapat berubah dengan cepat. Treatment (perlakuan) dapat sederhana dan pragmatis dan berkonsentrasi pada perubahan perilaku symptomatic dan peran-peran yang kaku. Perubahan akan muncul melalui ajakan-ajakan , cobaan berat (siksaan), paradox, pura-pura/dalih dan ritual-ritual (strategic and systemic therapis), difokuskan pada pengecualian terhadap disfungsionalitas, solusi-solusi hipotetik dan perubahan-perubahan kecil. (solution-focused therapies).  Peran Konselor Konselor menanggapi munculnya daya tahan/perlawanan dalam keluarga dan mendesign rangkaian cerita tentang strategi-strategi untuk memecahkan masalah.Menerima munculnya perlawanan/daya tahan melalui penerimaan positif terhadap problem-problem yang dibawa keluarga. Konselor lebih seperti seorang dokter dalam tanggung-jawab terhadap keberhasilan treatment dan harus merencanakan dan membangun strategi-strategi.  Unit treatment Keluarga sebagai suatu system, meskipun pendekatan-pendekatannya secara selektif dipergunakan pada pasangan-pasangan dan individu-individu.  Tujuan treatment Untuk mengatasi problem-problem masa sekarang. Menemukan solusi-solusi,membawa perubahan-perubahan, menemukan target tujuan perilaku, untuk menimbulkan insigt, untuk mengabaikan hal-hal yang bukan masalah.  Tehnik Reframing (memasukkan dalam konotasi positif), direktif, kerelaan dan pertentangan berdasarkan pada paradox (termasuk penentuan symptom-symptom),pengembangan perubahan selanjutnya, mengabaikan interpretasi, pura-pura, hirarki kooperatif, cobaan-cobaan (siksaaan), ritual, tim, pertanyaan-pertanyaan berputar, solusi hipotetis (dengan menanyakan “pertanyaan ajaib”).  Aspek-aspek unik Terdapat penekanan pada pemeriksaan pada pemeriksaan symptom dengan cara yang positif. Treatment-nya singkat (biasanya 10 sesi atau beberapa). Fokus pada pengubahan perilaku problematik masa sekarang. Tehniknya dirancang khusus untuk setiap keluarga. Tretment yang inovatif dan penting. Pendekaannya fleksibel, berkembang dan kreatif. Secara mudah dapat dikombinasikan dengan teori-teori lain. struktur keluarga yang disfungsional. Perilaku yang bermasalah merupakan usaha individu untuk mencapai kekauasaan dan rasa aman.  Pendekatan Behavioral Konseling keluarga behavioral, terakhir masuk dalam bidang konseling keluarga, berupaya membawa metode ilmiah dalam proses-proses terapeutik mengembangkan monitoring secara tetap dan mengembangnkan prosedur-prosedur intervensi berdasarkan data. Pendekatan ini mengambil prinsip-prinsip belajar manusia, seperi classical dan operant conditioning, penguatan positif dan negatif, pembentukan, extinction, dan belajar sosial. Pendekatan behavioral menekankan lingkungan, situasional, dan faktor-faktor sosial dari perilaku. Dalam tahu-tahun terakhir ini, pengaruh dari faktor-faktor kognitif, seperti peristiwa-peristiwa yang memediasi interaksi-interaksi keluarga juga diperkenalkan oleh sebagian besar penganut behavioral. Konselor yang berorientasi behavioral berupaya untuk meningkatkan inteaksi yang positif diantara anggota-anggota keluarga, mengubah kondisi-kondisi lingkungan yang menentang atau menghambat interaksi-interaksi, dan melatih orang untuk memelihara perubahan-perubahan perilaku positif yang diperlukan. Pendekatan behavioral memberikan pengaruh yang signifikan terhadap empat bidang yang berbeda, yaitu konseling pekawinan behavioral, pendidikan dan latihan keterampilan orangtua behavioral, konseling keluarga fungsional, serta penanganan tidak berfungsinya seksual. Pendidikan dan latihan keterampilan-keterampilan orangtua behavioral, sebagian besar didasarkan pada teori belajar sosial, berupaya untuk melatih orang tua dengan prinsip-prinsip behavioral dalam pengelolaan anak. Secara khusus, Patterson memfokuskan terhadap hubungan dua orang (dyad), biasanya antara ibu dan anak, serta menekankan bahwa perilaku anak itu kemungkinan dikembangkan dan dipelihara melalui hubungan timbal balik mereka. Secara khusus, intervensinya berupaya membentu keluarga mengembangkan sejumlah kontingensi penguatan baru dengan maksud memulai belajar perilaku-perilau baru. Konseling keluarga fungsional berupaya menginyegrasikan teori sistem, behavioral, dan kognitif dalam bekarja dengan keluarga. Konseling keluarga fungsional berpandangan, bahwa semua perilaku sebagai fungsi antarpribadi mengenai hasil khusus dari konsekuensi-konsekuensi perilaku. Konselor keluarga fungsional tidak mencoba mengubah perilaku-perilaku yang berguna untuk memelihara fungsi-fungsi.  Dasar pemikiran Perilaku dipertahankan atau dikurangi melalui konsekuensi-konsekuensi, perilaku maladaptive dapat diubah (dihapus) atau dimodifikasi. Perilaku adaptive dapat dipelajari, melalui kognisi, rational maupun irational. Perilaku dapat dimodifikasi dan hasilnya akan membawa perubahan-perubahan.  Peran konselor Directiv, melakukan pengukuran dan intervensi dengan hati-hati, konselor tampak seperti guru, ahli dan pemberi penguat, dan focus pada problem masa sekarang.  Unit Treatment Training orang tua, hubungan perkawinan dan komunikasi pasangan dan treatment pada disfungsi sexual, menekankan pada interaksi pasangan, kecuali dalam terapi peran keluarga.  Tujuan treatment Untuk menimbulkan perubahan melalui modifikasi pada antecedent-antecedent atau konsekuen-konsekuen dari perbuatan, memberikan perhatian spesial untuk memodifikasi konsekuensi-konsekuensi, menekankan pada pengurangan perilaku yang tidak diharapkan dan menerima perilaku positif, untuk mengajarkan keterampilan sosial dan mencegah problem-problem melalui mengingatkan kembali, untuk meningkatkan kompetensi individu dan pasangan-pasangan serta memberikan pengertian tentang dinamika perilaku.  Teknik Operant conditioning, classical conditioning, social learing theory, strategi-strategi kognitif – behavioral, tehnik systematic desensitization, reinforcement positif, reinforcement sekejap/singkat, generalisasi, kehilangan, extinction, modeling, timbal balik, hukuman, token-ekonomis, quid proquo exchanges, perencanaan, metode-metode psikoedukasional.  Aspek-aspek unik Pendekatan-pendekatannya secara langsung melalui observasi, pengukuran, dan penggunaan teori ilmiah. Menekankan pada treatment terhadap problem masa sekarang. Memberikan waktu khusus untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial khusus dan mengurangi keterampilan yang tak berguna. Hubungan dibangun diatas kontrol positif dan lebih pada penerangan prosedur-prosedur pendidikan dibanding hukuman. Behaviorisme adalah intervensi yang simple dan pragmatis dengan teknik-teknik yang bermacam-macam. Data riset yang bagus membantu pendekatan-pendekatan ini dan keefektifannya dapat diukur. Perlakuannya pada umumnya dalam waktu yang singkat. 4. Peran Intervensi pada Konseling Keluarga 1. Sebagai penilai mengenai; masalah, sasaran intervensi, kekuatan dan strategi keluarga, kepercayaan dan etnik keluarga. Eksplorasi pada: reaksi emosi keluarga terhadap trauma dan transisi, komposisi, kekuatan dan kelemahan, informasi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan keluarga, kesiapan untuk intervensi dan dirujuk pada ahli lain. 2. Pendidik/pemberi Informasi agar keluarga siap beradaptasi terhadap perubahan-perubahan 3. Pengembang sistem support, mengajarkan support dan selalu siap dihubungi. 4. Pemberi tantangan 5. Pemberi fasilitas prevensi (pencegahan) dengan mempersiapkan keluarga dalam menghadapi stress. 5. Proses Konseling keluarga 1. Melibatkan keluarga, pertemuan dilakukan di rumah, sehingga konselor mendapat informasi nyata tentang kehidupan keluarga dan dapat merancang strategi yang cocok untuk membantu pemecahan problem keluarga. 2. Penilaian Problem/masalah yang mencakup pemahaman tentang kebutuhan, harapan, kekuatan keluarga dan riwayatnya. 3. Strategi-strategi khusus untuk pemberian bantuan dengan menentukan macam intervensi yang sesuai dengan tujuan. 4. Follow up, dengan memberi kesempatan pada keluarga untuk tetap berhubungan dengan konselor secara periodik untuk melihat perkembangan keluarga dan memberikan support. C. Penelitian, Latihan, dan Praktik Profesional Penelitian dalam konseling keluarga didahului oleh perkembangan teknik-teknik intervensi terapeutik. Penelitian tentang hubungan pola-pola interaksi keluarga dan gangguan psikologis, sebelumnya didasarkan pada pendekatan penelitian cross sectional yang kemudian disusul dengan pendekatan penelitian longitudinal. Akhir-akhir ini berkembang penelitian tentang bproses dan hasil dari intervensi konseling keluarga. Selanjutnya, penelitian tertarik pada keuntungan dan kerugian relatif dari alternatif pendekatan-pendekatan untuk individu-individu dan keluarga-keluarga yang kesulitannya berbeda. Pada saat sekarang ini, latihan-latihan klinis terjadi dalam tiga setting yang berbeda, yaitu dalam program-program bantuan konseling keluarga, lembaga-lembaga latihan sebelum menduduki konseling keluarga, dan dalam program-program universitas. Sebagian besar program-program latihan itu langsung berupaya untuk membantu traine mengembangkan persepsi, konsep, dan keterampilan-keterampilan dalam kerja dengan keluarga. Alat bantu latihan ini meliputi: 1. kursus kerja didaktik 2. menggunakan master videotape terapis dan traine 3. melakukan supervisi melalui bimbingan aktif dengan supervisor yang melihat pertemuan tersebut di belakang cermin yang satu arah dan melakukan umpan balik korektif melaluitelepon, earphone, memanggil traine dari pertemuan konseling untuk konsultasi. 4. ko-konseling di mana traine mempunyai kesempatan untuk bekerja di di samping mentor dalam keluarga. Praktik propesional dalam konseling perkawinan atau keluarga diatur oleh status hukum dan pengaturan diri dengan kode etik, review sebaya, melanjutkan pendidikan, dan konsultasi. BAB III ANALISIS MATERI Didalam keluarga tentunya banyak permasalahan yang akan dialami, baik itu antar pribadi ,aupun antar kelompok di dalam keluarga. Bila dikaitkan dengan pendidikan luar biasa, konseling keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu penyelesaian masalah-masalah yang timbul. Bila diambil sebuah contoh, misalnya sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Memiliki anak merupakan harapan dan anugrah yang sangat dinanti sebuah keluarga, tetapi tidak sedikit orang tua dan anggota keluarga lain yang menolak atau justru merasa mendapatkan masalah dengan lahirnya anak berkebutuhan khusus. Sikap penolakan dari anggota keluarga, akan menimbulkan permasalahan baik pada anak maupun pada keseimbangan kehidupan keluarga tersebut. Dari kasus ini, tentunya konseling keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu permasalahan tersebut. Begitupun peran konselor dan pendekatan serta proses konseling. Dari uraian materi yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa keluarga merupakan tempat pertama dalam perkembangan seorang anak. Keluarga memiliki peranana yang penting dalam membantu mengembangkan potensi anak. Jika di dalam kelurga terdapat permaslahan-permasalahan yang terjadi maka hal tersebut akan mempengaruhi kondisi di dlaam keluarga tersebut. PermasAlahan-permaslahan yang timbul di dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh bagaimana perkembangan keluarga tersebut baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Hal ini merupakan salah satu faktor bagaimana dalam sebuah keluarga ketika memandang sebuah persoalan. Begitupun dnegan bagaimana keluarga memandang anak berkebutuhan khsusus. Bagi keluarga yang memiliki statuts ekonomi yang tinggi serta memiliki nilai-nilai yang luhur di dalam keluarga, mungkin penolakan terhadap hadirnya seorang anak berkebutuhan khusus tidak akan terjadi, disini mereka malah berusaha untuk meberikan yang terbaik bagi anak berkebutuhan khusus tersebut. Dalam konseling keluarga banyak pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam membantu permasalahan yang terjadi di dalam keluarga. Hal ini antara lain adalah pendekatan psikodinamik, pendekatan eksistensial, pendekatan bowenian, pendekatan struktural, pendekatan komunikasi dan pendekatan behavioral. Pendekatan-pendekatan tersebut memiliki dasar pemikiran, tujuan serta teknik yang berbeda di dalam penanganannya. Pendekatan psikodinamik lebih menekankan bagaimana individu memahami diridan memahami emosi, sehingga anggota keluarga nantinya bisa menyelesaikan problem matika sendiri tanpa bantuan lagi dari konselor. Pendekatan eksperensial atau humanistik didasari oleh masalah-masalah keluarga yang berakar dari perasaan-perasaan negatif seperti tertekan, kekakuan dan lain-lain. Pendekatan ini lebih menekankan pada keluarga agar mampu untuk berusaha mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh individu. Pendekatan bowen didasarkan dimana anggota keluarga dapat memisahkan anatara fungsi intelektual dan emosionalnya, dimana pendekatan ini menhindarkan triangulasi atau orang ketiga dalam proses penanganannya. Pendekatan struktural lebih menekankan pada perubahan struktural di dalam keluarga dan bagaimana keluarga dapat mengatur dirinya sendiri dengan pola transaksional di antara anggota keluarga. Peran konselor dalam pendekatan ini harus mampu memberikan instruksi-instruksi yang selayaknya dilakukan oleh anggota keluarga sedang melakukan bimbingan. Pendekatan strategis atau komunikasi lebih menekankan pada problematika masa sekarang yang bertujuan untuk mengubah segala perilaku-perilaku yang salah. Sedangkan pada pendekatan behavioral, lebih menekankan pada perilaku-perilaku dimana perilaku tersebut dipertahankan atau bahkan dihilangkan. Pada kasus yang telah diungkap sebelumnya, bahwa penolakan orang tua terhadap hadirnya anak berkebutuhan khusus serta sikap orangtua yang frustasi, stress hingga acuh pada anak yang akhirnya membuat keseimbangan kehidupan keluarga tersebut terganggu. Tentunya hal tersebut harus ditangani dengan segera. Jangan sampai masalah di dalam keluarga dapat menghambat potensi serta aktivitas anggota keluarga yang lain. Pendekatan-pendekatan bimbingan keluarga yang telah dijelaskan diatas merupakan acuan bimbingan yang dapat membantu memecahkan persoalan tersebut. Pendekatan behavioral yang menekankan pada perilaku yang dipertahankan atau dirubah atau dimodifikasi dapat digunakan untuk orang tua bagaimana harus bersikap dan berperilaku terhadap anak berkebutuhan khusus yang hadir dalam keluarganya. Pendekatan eksperiensial atau humanistik dapat digunakan untuk mengembangkan ketertutupan emosional dan mengurangi kekakuan didalam keluarga serta pendekatan-pendekatan lainnya. BAB IV KESIMPULAN Keluarga merupakan bagian terkecil dari susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam mewujudkan suatu negara (Emil Salim 1983). Begitu besarnya tugas keluarga didalam perkembangan seorang anak, sehingga lingkungan keluarga harus dibina dan dijaga sedemikian rupa agar permasalahan-permasalahan yang muncul dalam keluarga tidak mengakibatkan terhambatnya segala aktivitas para anggota keluarga lainnya. Didalam keluarga yang terdiri dari beberapa anggota didalamnya tidak akan terlepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi baik dari luar lingkungan keluarga ataupun dalam lingkungan keluarga itu sendiri. Bimbingan konseling keluarga merupakan salah satu upaya membantu keluarga dalam menangani permasalahan-permasalahannya. Setiap keluarga memiliki perkembangan yang berbeda-beda baik faktor sosial, ekonomi, budaya, dan agama yang membedakan permasalahan-permasalahan yang akan muncul. Akan tetapi, permasalahan-permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan yang ada dalam bimbingan konseling keluarga. Diantara pendekatan-pendekatan tersebut yaitu pendekatan psikodinamik, eksperimental / humanistik, bowen, bihavioral, dan struktural. Bila dikaitkan dengan permasalahan keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus misalnya dengan kasus orangtua yang menolak kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus dalam keluarganya dapat juga dibantu dengan bimbingan konseling keluarga dengan pendekatan-pendekatan konseling yang ada. Sehingga, permasalahan-permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan baik.

psikologi kepribadian

BAB I PENDAHULUAN A. SIFAT-SIFAT KHAS KEPRIBADIAN MANUSIA Berpangkal pada kenyataan bahwa kepribadian manusia itu sangat bermacam-macam sekali, mungkin sama banyaknya dengan banyaknya orang, segolongan ahli berusaha menggolong-golongkan manusia ke dalam tipe-tipe tertentu, karena mereka berpendapat bahwa cara itulah paling efektif untuk mengenal sesama manusia dengan baik. Pada sisi lain, sekelompok ahli berpendapat, bahwa cara bekerja seperti dikemukakan di atas itu tidak memenuhi tujuan psikologi kepribadian, yaitu mengenal sesama manusia menurut apa adanya, menurut sifat-sifatnya yang khas, karena dengan penggolongan ke dalam tipe-tipe itu orang justru menyembunyikan kekhususan sifat-sifat seseorang. B. TEORI TIPOLOGI 1. Teori Hippocrates – Gelenus Terpengaruh oleh Kosmologi Empedokles, yang menganggap bahwa alam semesta beserta isinya ini tersusun atas empat unsur pokok, yaitu tanah, air, udara, dan api, yang masing-masing mendukung sifat tertentu, yaitu tanah mendukung sifat kering, air mendukung sifat basah, udara mendukung sifat dingin dan api mendukung sifat panas, maka Hippocrates (460 – 370) berpendapat, bahwa juga di dalam tubuh manusia terdapat sifat-sifat tersebut yang didukung oleh cairan-cairan yang ada di dalam tubuh, yaitu : - Sifat kering didukung oleh Cholc, - Sifat basah didukung oleh Melannchole, - Sifat dingin didukung oleh Phlegma, dan - Sifat panas didukung oleh Sanguis. Hippocrates Galenus berpendapat, bahwa di dalam tubuh manusia terdapat empat macam cairan pokok, yaitu chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Sifat kejiwaan tertentu yang khas ini, yang adanya tergantung kepada dominasi cairan dalam tubuh itu oleh Gelenus disebut temperamental. 2. Tipologi Mazhab dan Mazhab Perancis a. Tipologi Mazhab Itali Berdasarkan atas data-data yang di peroleh oleh DeGiovani, serta hukum deformasi yang dirumuskan oleh DeGiovani,Viola dalam penyelidikan-penyelidikannya menemukan, bahwa ada tiga macam tipe manusia berdasarkan atas keadaan tubuhnya, yaitu : (1) Microsplanchnis : ukuran-ukuran menegak relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung. (2) Macrosplanchnis : ukuran-ukuran mendatarnya relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan pendek gemuk. (3) Normosplanchnis : ukuran-ukuran menegak dan mendatar seimbang, sehingga orang kelihatan seimbang. Bermacam-macam bentuk tubuh yang demikian itu beralas pada keturunan. b. Tipologi Mazhab Perancis Mazhab Perancis yang dipimpin oleh Sigaud berpendapat, bahwa keadaan serta bentuk tubuh manusia serta kelainan-kelainannya itu pada pokoknya ditentukan oleh sekitar atau lingkungan. Yaitu : (1) Ada lingkungan yang berwujud udara yang menjadi sumber reaksi respiratoris. (2) Ada sekitar yang berwujud makan-makanan yang menjadi sumber reaksi-reaksi digestif. (3) Ada lingkungan yang berwujud keadaan-keadaan alam yang menjadi sumber reaksi-reaksi muskuler. (4) Ada lingkungan yang berwujud keadaan sosisl yang menimbulkan reaksi-reaksi cerebral. 3. Tipologi Kretschmer a. Tipe-tipe manusia menurut keadaan jasmaninya Kretschmer menggolong-golongkan atas dasar bentuk tubuhnya menjadi empat : 1. Tipe piknis: Sifat-sifat khas tipe ini ialah : - Badan agak pendek, - Dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar - Leher pendek dan kuat - Lengan dan kaki lemah - Kepala agak “merosot” ke muka diantara keuda bahu, sehingga bagian atas dari tulang punggung kelihatan sedikit melengkung - Banyak lemak, sehingga urat-urat dan tulang-tulang tak kelihatan nyata Tipe ini memperoleh bentuknya yang nyata setelah orang berumur 40 tahun 2. Tipe Leptosom Orang yang bertipe leptosom ukuran-ukuran menegaknya lebih dari keadaan biasa, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung, sifat-sifat khas tipe ini ialah: - badan langsing/kurus, jangkung - perut kecil, bahu sempit - lengan dan kaki lurus - tengkorak agak kecil, tulang-tulang di bagian muka kelihatan jelas - buka bulat telur - berat relatif kurang 3. Tipe Atletis Pada orang yang bertipe atletis ukuran-ukuran tubuh yang menegak dan mendatar dalam perbandingan yang seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras; tipe mini dapat dipandang sebagai sintesis dari tipe piknis dan tipe leptoson. Sifat-sifat khas tipe ini ialah: - tulang-tulang serta otot dan kulit kuat - badan kokoh dan tegap - tinggi cukupan - bahu lebar dan kuat - perut kuat - panggul dan kaki kuat, dalam perbandingan dengan bahu dan kelihatan agak kecil - tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak - muka bulat telur, lebih pendek dari tipe lepsotom 4. Tipe Displatis Tipe ini merupakan penyimpangan dari ketiga tipe yang telah dikemukakan itu, tidak dapat dimasukan ke dalam salah satu diantara ketiga tipe itu, karena tidak memiliki ciri-ciri yang khas menurut tipe-tipe tersebut. Bermacam-macam bagian yang seolah-olah bertentangan satu sama lain ada bersama-sama. Kretschmer sendiri menganggap tipe displastis ini menyimpang dari kosntitusi normal. b. Tipe-Tipe Manusia Menurut Temperamennya 1. Tipe schizothym Orang yang bertemperament schizothym, sifat-sifat jiwanya bersesuaian dengan para penderita schizoprenia, hanya sangat tidak jelas, ada kecenderungan ke arah autisme: menutup diri sendiri, hidup dengan dirinya sendiri 2. Tipe cyklothym Orang yang bertemperament cyklothym, sifat-sifat jiwanya bersesuain dengan para penderita manisdefresif, hanya sangat tidak jelas. Golongan ini juga mudah untuk ikut merasakan suka dan duka orang lain c. Hubungan Antara Keadaan Jasmani Dan Temperament 1. orang yang konstitusi piknis kebanyakan bertemperament cyklothym, atau orang-orang yang bertemperament cyklothym kebanyakan berkonstiusi piknis 2. orang-orang yang berkonstitusi leptosom, atletis, dan displastis kebanyakan bertemperament schizothyum, atau orang-orang yang bertemperament schizothym kebanyakan berkonstitusi leptosom, atau atletis atau displastis. C. TEORI SHELDON Sheldon menggambarkan kepribadian manusia itu sebagai terdiri dari komponen-komponen. a. Komponen Kejasmanian (1) Komponeen-komponeen kejasmanian primer, yang terdiri dari a. Endomorphy Orang yang komponen endomorphynya tinggi sedang kedua komponen lainnya rendah ditandai oleh: lembut, gemuk, berat badan relatif kurang b. Mesomorphy Orang yang bertipe mesomorphy komponen mesomorphnya tinggi sedang komponene yang lain lagi rendah; otot-otot dominant, pembuluh-pembuluh darah kuat, jantung juga dominan, orang bertipe ini tampak: kokoh, keras, otot kelihatan bersegi-segi, tahan sakit. c. Ectomorphy Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ini organ-organ mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang yaitu; kulit, sistem syaraf, dengan ciri-cir: jangkung, dada pipih, lemah, otot-otot hampir tidak nampak berkembang. (2) Komponen kejasmanian sekunder, yang terdiri dari a. Dysplasia Dengan meminjam istilah dari Kretchmer istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukan setiap ketidak tepatan dan ketidak-lengkapan campuran ketiga komponen primer itu pada berbagai daerah dari pada tubuh. b. Gynandromorphy Gynandromorphy itu menunjukan sejauhmana jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Komponen ini oleh Sheldon dinyatakan dengan huruf “g” jadi orang laki-laki yang memiliki komponen “g” tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, panggul besar, dan sifat-sifat wanita yang lain. Seseorang yang memiliki komponen “g” ini maksimal adalah banci. c. Texture Ialah komponen yang menunjukan bagaimana orang itu nampaknya keluar (3) Komponen-Komponen Temperament Komponen-komponen temperament ini terdiri pula atas tiga komponen yaitu: a. Tipe viscerotonis Sifat-sifat orang yang bertipe viscerotonis itu ialah: 1. Sikap tidak tegang (relaxed) 2. suka akan hiburan 3. gemar makan-makan 4. besar kebutuhan akan resonansi orang lain 5. tidurnya nyenyak 6. bila mengadapi kesukaran membutuhkan orang lain b. Tipe somatotonis Sifat-sifat temperament somatotonis ini ialah: 1. sikapnya gagah 2. perkasa (energetic) 3. kebutuhan bergerak besar 4. suka terus terang 5. suara lantang 6. nampaknya lebih dewasa dari yang sebenarnya 7. bila menghadapi kesukaran-kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan c. Tipe celebrotonis Sifat-sifat orang yang bertipe cerebrotonis itu adalah: 1. sikapnya kurang gagah, ragu-ragu 2. reaksinya cepat 3. kurang berani bergaul dengan orang banyak (ada sociopobia) 4. kurang berani berbicara di depan orang banyak 5. kebiasaan-kebiasaannya tetap, hidup teratur 6. suara kurang bebas 7. tidur kurang nyenyak (sukar) 8. nampaknya lebih muda dari yang sebenarnya 9. kalau menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri (4) Komponen-komponen psikiatris, yang terdiri atas: a. Affective Yang bentuknya ekstrim terdapat pada para penderita psikosis jenis manis defresif b. Paranoid Yaitu banyak angan-angan, fikiran, gambaran-gambaran yang sangat jauh dari kenyataan. c. Heboid Yaitu bentuk ekstrimnya terdapat pada pra penderita hebehrenia, yaitu suatu bentuk dari pada schzoprenia (a sosial, anti sosial) D. BEBERAPA TIPOLOGI YANG BERDASARKAN KEADAAN KEJIWAAN SEMATA-MATA a. Tipologi Plato Plato membedakan adanya tiga bagian jiwa, yaitu: 1. fikiran (logos) yang berkedudukan di kepala 2. kemauan (thumos) yang berkedudukan di dada 3. hasrat (epithumid) yang berkedudukan di perut b. Tipologi Queyrat Queyrat menyusun tipologi atas dasar dominasi daya-daya jiwa, daya-daya kognitif, afektif, dan konatif. 1. Salah satu daya yang dominant a) Tipe mediatif, atau intelektual, dimana daya kognitif dominan b) Tipe emosional, di mana daya efektif dominant c) Tipe aktif, daya konatif dominant 2. Dua daya dominant a) Tipe mediatif emosional atau daya kognitif atau afektif dominant b) Tipe aktif emosional atau garang: daya konatif dan afektif dominant c) Tipe aktif-mediatif: daya konatif dan kognitif dominant 3. Ketiga daya itu ada dalam proporsi yang seimbang: a) Tipe seimbang b) Tipe amproph c) Tipe aphatis 4. Ketiga daya itu ada atau berfungsi secara tak menentu: a) Tipe tak stabil b) Tipe tak teguh hati c) Tipe kontraktroris 5. Ada tiga macam tipe yang tidak sehat, yaitu: a) Tipe hypochonolis b) Tipe melancholis c) Tipe hysteris c. Tipologi Malapert 1. Tipe intelektual, yang terdiri atas: a) Golongan analitis b) Golongan reflektif 2. Tipe afektif, yang terdidi atas: a) Golongan emosional b) Golongan bernafsu 3. Tipe voulenter, yang terdiri atas: a) Golongan tanpa kemauan b) Golongan besar kemauan 4. Tipe aktif, yang terdiri atas: a) Golongan tak aktif b) Golongan aktif d. Tipologi Heymans 1. Emosionalitas (emosionaliteit), yaitu mudah tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh sesuatu kesan. 2. Proses pengiring, yaitu banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran. 3. Aktivitas (activiet), yaitu sedikitnya orang menyatakan diri, menjelmakan perasaannya dan fikiran-fikirannya dalam tindakan yang spontan. 4. Golongan yang aktif, yaitu golongan yang karena alasan yang lemah saja telah berbuat. 5. Golongan yang tidak aktif yaitu golongan yang walaupun ada alasan-alasan yang kuat belum juga mau bertindak. e. Tipologi Spranger 1. Dua macam rohk (Geist) Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu: a) Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu) b) Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad. 2. Hubungan antara rokh subjektif dan rokh abjektif Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma. 3. Lapangan-lapangan hidup Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu. a) Lapangan pengetahuan (ilmu, teori) b) Lapangan ekonomi c) Lapangan kesenian d) Lapangan keagamaan e) Lapangan kemasyarakatan f) Lapanagan politik BAB II BEBERAPA TEORI KEPRIBADIAN YANG MEMAKAI CARA PENDEKATAN LAIN 1. PSIKOANALISIS TEORI SIGMUND FREUD a. Struktur Kepribadian Menurut Freud kepribadian itu sendiri atas tiga sistem atau aspek, yaitu: 1. Das Es (the id), yaitu aspek biologis Das Es atau aspek biologis daripada kepribadian ini adalah aspek orisinal. Untuk menghilangkan ketidak-enakan itu das es mempunyai dua macam cara, yaitu: a) refleks dan reaksi –rekasi otomastis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya b) proses primer, seperti misalnya kalau orang lapar lalau membayangkan makan 2. Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis Das Ich atau aspek psikologis daripada kepribadian timbul dari ke butuhan organisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realistis. 3. Das Ueber Ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis Das ueber Ich atau aspek sosiologis pribadi ini merupakan wakil nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang diajarkan (dimasukan) dengan berbagai perintah larangan . b. Dinamika kepribadian Menurut Freud di dalam diri kita ini ada dua macam (lebih tepatnya dua kelompok) instink-instink, yaitu: 1. Instink-instink hidup Fungsi instink hidup adalah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memeperpanjang ras. 2. instink-instink mati instink mati ini, yang disebut juga instink merusak (destruktif) berfungsinya kurang jelas jika dibandingkan dengan instink-instink hidup, karena itu juga dikenal. Namun adalah suatu kenyataan yang tak dapat diingkari, bahwa manusia itu pada akhir-akhirnya mati juga. Inilah yang menyebabkan Freud merumuskan, bahwa “Tujuan semua hidup adalah mati”. Suatu penjelmaan dari pada instink mati ini ialah dorongan agresif. c. Perkembangan Kepribadian Adapun sumber tegangan pokok ialah 1. proses pertumbuhan fisologis 2. frustasi 3. konflik 4. ancaman Beberapa bentuk mekanisme pertahanan itu, yang popular antara lain: a) Proyeksi Proyeksi adalah secara begitu saja (tidak sadar, mekanisme) menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri, sehingga sifat-sifat batin sendiri itu diamati atau dihayati sebagai sifat-sifat orang lain atau sifat-sifat benda di luar dirinya. b) Fiksasi Fiksasi adalah berhenti pada suatu fase perkembangan tertentu yang seharusnya sudah ditinggalkan, karena melangkah ke fase yang lebih lanjut itu menimbulkan ketakutan atau rasa tidak enak. c) Regresi Isolasi adalah kembali lagi ke fase yang telah pernah ditinggalkannya, karena menghadapi situasi yang baginya mengandung bahaya. d) Isolasi Isolasi adalah menyisihkan (mengisolir) sesuatu dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting. e) Rasionalisai Rasionalisasi adalah memberikan alasan rasional kepada sesuatu kejadian, sehingga kejadian yang jika sekiranya tanpa alasan yang demikian itu baginya akan menimbulkan ketidak-enakan. f) Transkulpasi Transkulpasi adalah mengkambinghitamkan pihak lain, walaupun diri sendiri sebenarnya membuat kesalahan. 2. Psikologi Analitis, Teori carl Gustawjung Menurut Jung kepribadian itu terdiri dari dua alam yaitu: (a) Alam sadar (kesadaran), yang berfungsi mengadakan penyesuaian terhadap dunia luar, dan (b) Alam tak sadar (ketidak sadaran), yang berfungsi mengadakan penyesuaian terhadap dunia dalam yaitu dunia batin sendiri. a. Struktur kesadaran 1. Fungsi jiwa Dominasi fungsi jiwa itu menurut Jung ada empat macam tipe manusia, yaitu: (a) Tipe pemikir (b) Tipe perasa (c) Tipe pendria (d) Tipe intuitif 2. Sikap jiwa Yang dimaksud dengan sikap jiwa ialah arah daripada energi psikis umum atau libido, yang menjelma dalam orientasi manusia terhadap dunianya. 3. Persona Persona oleh Jung ialah cara seseorang dengan sadar menampakan diri ke luar. b. Struktur ketidaksadaran 1. Ketidaksadaran pribadi Yaitu bagian daripada alam ketidaksadaran yang diperoleh individu selama sejarah hidupnya, pengalamannya pribadi. 2. Ketidaksadaran kolektif Adalah bagian dari pada ketidaksadaran itu diperoleh oleh individu dari warisan nenek moyangnya, yaitu hal-hal yang diperoleh manusia (sebagai jensi) di dalam perkembangannya. 3. Individual Psychologic Teori Alfred Adler a. Individualitas sebagai pokok persoalan Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) daripada kepribadian, yaitu individualitas, kebulatan serta sifat-sifat khas pribadi manusia. b. Pandangan teleogis Adler sangat terpengaruh oleh “filsaat seakan-akan” yang dirumuskan oleh Hans Vaihinger dalam bukunya yang berjudul Die Philosophie des Als-Ob. Vaihinger mengemukakan, bahwa manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, tidak ada kenyataannya atau pasangannya di dalam dunia realitas. c. Dua dorongan pokok 1. Dorongan kemasyarakatan, yaitu dorongan yang mendorong manusia untuk bertindak yang mengabdi kepada masyarakat 2. dorongan keakuan, yang mendorong manusia untuk bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri d. Rasa rendah diri dan kompensasi 4. Arti Individual Psychologie Individual psychologie mempunyai arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia. 1) Aliran ini menghendaki ditentukannya tujuan-tujuan yang susila, seperti a. Keharusan memikul tanggung jawab b. Keharusan menghadapi kesukaran-kesukaran hidup c. Mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan d. Menyelami diri sendiri dan membuka kecenderungan egoistis yang tersembunyi untuk kemudian memberantasnya 2) Optimisme dalam bidang pendidikan Mengenai pengaruh pendidikan aliran ini berpandangan optimistis. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Untuk itu penulis dapat menyimpulkan makalah ini sebgaai berikut: 1. Psikologi kepribadian betujuan untuk mengenal sesama manusia baik sifatnya maupun tipe kepribadian masing-masing. 2. Saling berhubungan antara konstitusi dan temperament baik jasmani maupun spkiatris 3. Mengikis dorongan keakuran dan mengembangkan dorongan kecenderungan egoistis yang tersembunyi untuk kemudian memberantasnya. B. Daftar Pustaka Allport, G.W. Personality: a Psychologycal Interpretation. New York. Henry Holt, 1937. Adler, A. Understanding Human Nature (Terj. Beram Walfe) New. York: Permabook-Greenberg, 1949. Brand, H. The Study of Personality. New York: John Wiley & Sons, 1954. Hall, C.S. & Lindzey, G Theories of Personality New York: John Wiley & Sons, 1957 Jacobi, J. De Psychologie Van C.G. Jung (terj. : M. Drukker) Amsterdam-Antwerpen: Contact, 1951. Janse de Jonge, A.L. Karakterkunde, Baarn: Bosch & Keuning, 1949. Roback, A.A. The Psychology Of Character. London: Routledge & kegan Paul, 1952 Rumke, H.C. Inleading tot de Karakterkunde Haarlem: de Erven F. Bohn, 1951. Sheldon, W.H. The Varieties Of Human Physique: an introcdution to constitutional psychology, New york: Harper, 1942. Sheldon, W.H. The Varieties Of Temperament: a Psychology of Constutional Difference. New York : Harper, 1942. Spranger, E. Lebensformen. Leipzig: 1925.

deskripsi dari pertahanan ego:

deskripsi dari pertahanan ego:
Represi : Yang palign dasar di antara mekanisme pertahanan lainnya. suatu cara pertahanan untuk menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam. represi terjadi secara tidak disadari.

Denial : Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan. Denial beroperasi pada taraf preconscius atau conscius

Reaction Formation : Salah satu pertahanan terhadap impuls yang mengancam adalah secara aktif mengekspresikan impuls yang bertentangan dengan keinginan yang mengganggu, orang tidak usah harus menghadapi anxietas yang muncul seandainya ia menemukan dimensi yang ini (yang tidak dikehendaki) dari dirinya. individu mungkin menyembunyikan kebencian dengan kepura-puraan cinta, atau menutupi kekejaman dengan keramahan yang berlebihan.

Proyeksi : Mengatribusikan pikiran, perasaan, atau motif yang tidak dapat diterima kepada orang lain. mengatakan bahwa impuls-impuls ini dimiliki oleh “orang lain diluar sana, tidak oleh saya”. misalnya seorang laki-laki yang tertarik secara seksual kepada anaknya perempuan, mengatakan bahwa anaknyalah yang bertingkah laku seduktif. dengan demikian ia tidak usah harus menghadapi keinginannya sendiri.

Displacement : salah satu cara menghadapi anxietas adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan atasannya melampiaskan hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya

Rasionalisasi : kadang-kadang orang memproduksi alasan-alasan “baik” untuk menjelaskan egonya yang terhantam. rasionalisasi membantu untuk membenarkan berbagai tingkah laku spesifik dan membantu untuk melemahkan pukulan yang berkaitan dengan kekecewaaan. misalnya bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut.

Sublimasi : Dari pandangan freud, banyak kontribusi artistik yang besar merupakan hasil dari penyaluran energi sosial atau agresif kedalam tingkah laku kreatif yang diterima secara sosial dan bahkan dikagumi. misalnya impuls agresif dapat disalurkan menjadi prestasi olahraga.

Regresi : Beberapa orang kembali kepada bentuk tingkah laku yang sudah ditinggalkan. menghadapi stress atau tantangan besar, individu mungkin sudah berusaha untuk menanggulangi kecemasan dengan bertingkah laku tidak dewasa atau tak pantas.

Introyeksi : Mekanisme introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. misalnya seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak. introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah nilai-nilai positif dari orang-orang lain.
Arti dan Definisi Kepribadian
Agustus 7, 2007 pukul 4:42 am | Ditulis dalam Psikologi Kepribadian | 41 Komentar

Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan saking banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.

Kepribadian secara umum

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.

Kepribadian menurut Psikologi

Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.

Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama.

Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

Dari sebagian besar teori kepribadian diatas, dapat kita ambil kesamaan sbb(E. Koswara):

1. sebagian besar batasan melukiskan kerpibadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita.
2. sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah “kepribadian”, keunikan dari setiap individu ternyatakan. Dan melalui study tentang kepribadian, sifat-sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami. Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik dan atau khas pada diri setiap orang.
3. sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut “sejarah hidup”, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut teoris kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup factor-faktor genetic atau biologis, pengalaman-pengalaman social, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh factor-faktor bawaan dan lingkungan.
Hubungan psikologi sosial dengan ilmu-ilmu sosial lainnya
Mei 6, 2007 pukul 9:15 pm | Ditulis dalam Psikologi Sosial | 54 Komentar

Serge moscovici seorang psikolog sosial perancis menyatakan bahwa psikologi sosial adalah jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya. Sebab psikologi sosial mengakui pentingnya memandang individu dalam suatu system sosial yang lebih luas dan karena itu menarik kedalamnya sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan ekonomi. Psikologi sosial mengakui aktifitas manusia yang rentangnya luas dan pengaruh budaya serta perilaku manusia dimasa lampau. Dalam mengambil fokus ini psikologi sosial beririsan dengan filsafat, sejarah, seni dan musik. Selain itu psikologi sosial memiliki perspektif luas dengan berusaha memahami relevansi dari proses internal dari aktivitas manusia terhadap perilaku sosial. Dalam hal ini psikologi sosial misalnya mungkin mempertanyakan bagaimana keadaan orang setelah menyaksikan suatu kejadian menakutkan akan mempengaruhi arousal secara fisiologis, seperti tekanan darah dan serangan jantung. Karena perspektif ini, maka dibahas tentang persepsi, kognisi dan respon fisiologis.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa cirikhas dari psikologi sosial adalah memfokuskan pada individu daripada kelompok atau unit.sementara ahli ilmu sosial yang lain mempergunakan analisis kemasyarakatan yakni mempergunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Misalnya sosiologi lebih tertarik pada struktur dan fungsi kelompok. Kelompok itu dapat kecil (keluarga), atau moderat (perkumpulan mahasiswa, klub sepakbola), atau luas (suatu masyarakat).

Sementara bidang studi lain dari psikologi yang tertarik pada keunikan dari perilaku individu adalah psikologi kerpibadian. Pendekatan psikologi kepribadian adalah membandingkan masing-masing orang. Sementara pendekatan psikologi sosial adalah mengidentifikasikan respon (cara bereaksi) dari sebagian besar atau kebanyakan orang dalam suatu situasi dan meneliti bagaimana situasi itu mempengaruhi respon tersebut.

Marilah kita bandingkan ketiga pendekatan tersebut dengan menggunakan contoh yang spesifik untuk menganalisis terjadinya tindak kekerasan. Pendekatan kemasyarakatan cenderung menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kejahatan yang tinggi dengan kemiskinan, urbanisasi yang cepat, dan industrialisasi dalam suatu masyarakat. Untuk membuktikan kesimpulan ini, mereka menunjukkan beberapa fakta tertentu : orang yang miskin lebih sering melakukan kejahatan; kejahatan lebih banyak timbul di daerah kumuh ketimbang di lingkungan elit; kriminalitas meningkat pada masa resesi ekonomi dan menurun di saat kondisi ekonomi membaik.

Sementara pendekatan individual dalam bidang psikologi yang lain (psikologi kepribadian, perkembangan dan klinis) cenderung menjelaskan kriminalitas berdasarkan karakteristik dan pengalaman criminal individu yang unik. Pendekatan ini akan mempelajari perbedaan individual yang menyebabkan sebagian orang melakukan tindak criminal, yang tidak dilakukan oleh orang lain dengan latar belakang yang sama, untuk itu, biasanya mereka memusatkan pada latar belakang individu, misalnya bagaimana perkembangan orang itu? Disiplin apakah yang diterapkan orang tuanya? Mungkin orang tua yang kasar cenderung menumbuhkan anak belajar berperilaku kasar?. Penelitian dapat dilakukan dengan membandingkan latar belakang keluarga anak yang nakal dengan yang tidak nakal. Jadi analisis semacam ini memusatkan pada bagaimana dalam situasi yang sama orang dapat melakukan perilaku yang berbeda karena pengalaman masa lalu yang unik.

Sebaliknya psikologi sosial lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi. Psikologi sosial mempelajari perasaan subyektif yang biasanya muncul dalam situasi sosial tertentu, dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku. Situasi interpersonal apa yang menimbulkan perasaan marah, dan meningkatkan atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku agresi? Sebagai contoh, salah satu prinsip dasar psikologi sosial adalah bahwa situasi frustasi akan membuat orang marah, yang memperbesar kemungkinan timbulnya mereka melakukan perilaku agresi. Akibat situasi yang menimbulkan frustasi ini merupakan penjelasan alternative mengenai sebab timbulnya kejahatan. Hubungan itu tidak hanya menjelaskan mengapa perilaku agresif terjadi dalam situasi tertentu, tetapi juga menjelaskan mengapa faktor ekonomi dan kemasyarakatan menimbulkan kejahatan. Misalnya, orang miskin berduyun-duyun dating ke kota akan mengalami frustasi; mereka ternyata sulit mencari pekerjaan, mereka tidka dapat membeli apa yang mereka inginkan, tidak dapat hidup layak seperti yang mereka bayangkan. Dan frustasi ini merupakan sebab utama munculnya sebagian besar perilaku criminal. Psikologi sosial biasanya juga menyangkut perasaan-perasaan subyektif yang ditimbulkan situasi interpersonal, yang kemudian mempengaruhi perilaku individu. Dalam contoh ini situasi frustasi menimbulkan kemarahan, yang kemudian menyebabkan timbulnya perilaku agresif.

Kesimpulan : pada dasarnya psikologi sosial sangat berhubungan dengan ilmu sosial lain nya, dimana psikologi sosial merupakan bagian dari semua cabang ilmu sosial lainnya!

Ergonomi Dalam Peningkatan Produktivitas Petani
April 4, 2007 pukul 6:14 pm | Ditulis dalam Psikologi Umum | 15 Komentar

tulisan asli oleh Oleh Nyoman Sucipta



BAB I

PENDAHULUAN





Berbicara masalah ergonomi sangat erat kaitannya dengan alat, aktivitas, serta produk – produk yang dihasilkan oleh manusia. Karena disini ergonomi merupakan suatu keilmuan yang multidisiplin, mempelajari pengetahuan-pengetahuan dari ilmu kedokteran, biologi, ilmu psikologi dan sosiologi. Pada prinsipnya disiplin ergonomi akan mempelajari apa akibat-akibat jasmani, kejiwaan dan sosial dari teknologi dan produk-produknya terhadap manusia melalui pengetahuan-pengetahuan tersebut pada jenjang mikro maupun makro.

Karena yang dipelajari adalah dampak dari teknologi dan produk-produknya, maka pengetahuan yang khusus dipelajari akan berkaitan dengan teknologi seperti biomekanik, antropometri teknik, teknologi produksi, lingkungan fisik dan lain-lain. Maksud dan tujuan dari ergonomi adalah mendapatkan suatu pengetahuan yang utuh tentang permasalahan-permasalahan interaksi manusia dengan produk-produknya, sehingga dimungkinkan adanya suatu rancangan sistem manusia-mesin yang optimal. Dengan demikian disiplin ergonomi melihat permasalahan interaksi tersebut sebagai suatu sistem dengan pemecahan-pemecahan masalahnya melalui proses pendekatan sistem pula. Disiplin ini akan mencoba membawa ke arah proses perancangan mesin yang tidak saja memiliki kemampuan produksi yang lebih canggih lagi, melainkan juga memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan kemampuan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikan mesin tersebut. Tujuan pokoknya adalah terciptanya desain sistem manusia-mesin yang terpadu sehingga efektivitas dan efisiensi kerja bisa tercapai secara optimal.















BAB II

ISI



Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects (proses perancangan produk) dan lingkungan kerja. Pendekatan agro ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Maka, secara sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.

Disini kita akan membahas sedikit mengenai bagaimana agro ergonomi dapat meningkatkan produktivitas petani. Upaya peningkatan produktivitas petani secara terus-menerus dan menyeluruh merupakan hal yang penting tidak saja berlaku bagi setiap individu petani, juga bagi instansi yang terkait di sektor pertanian. Dengan peningkatan produktivitas maka tanggung jawab manajemen akan terpusat pada upaya dan daya untuk melaksanakan fungsi dan peran dalam kegiatan produksi. Khususnya yang bersangkut-paut dengan efisiensi penggunaan sumber-sumber input. Pendekatan agro ergonomi akan memainkan peran yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas petani. Beberapa peneliti di bidang ergonomi telah melakukan upaya ke arah tersebut. Seperti pada penelitian dengan memodifikasi meja pengumpan dan menambah peredam kebiasaan pada mesin perontok padi, dapat meningkatkan produktivitas kerja petani sebesar 46,49% (Sucipta, 2004). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutjana (1998) yaitu produktivitas kerja penyabit padi menggunakan sabit bergigi lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan sabit biasa dan berbeda bermakna setelah lima belas menit pertama, dan hasil penelitian Erawan (2002) bahwa produktivitas kerja operator traktor dari perbaikan rancang bangun handel yang mengacu aspek antropometri meningkat sebesar 23,25%. Contoh lain dari aplikasi disiplin ergonomi juga bisa dilihat dalam proses perancangan peralatan kerja untuk penggunaan yang lebih efektif. Perkakas kerja seperti sabit atau cangkul misalnya dengan pegangan (handle) yang berbentuk kurva pada dasarnya merupakan hasil dari human engineering studies. Desain handle yang berbentuk kurva — dan disesuaikan dengan bentuk genggaman tangan — akan memudahkan cara pengoperasian peralatan tersebut. Dengan demikian ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik; yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, efisien, aman dan nyaman. Sistem kerja di sini dimaksudkan sistem hubungan manusia-mesin (teknologi) yang dipertimbangkan sebagai sistem yang terpadu. Kalau di saat yang lalu perancangan mesin semata-mata ditekankan pada kemampuannya untuk berproduksi semata dengan atau sedikit sekali memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan elemen manusia maka sekarang dengan ergonomi proses perancangan mesin akan memperhatikan aspek-aspek manusia dalam interaksinya dengan mesin secara lebih baik lagi. Dengan kata lain di sini manusia tidak lagi harus menyesuaikan dirinya dengan mesin yang dioperasikan melainkan sebaliknya, mesin dirancang dengan terlebih dulu memperhatikan kelebihan dan keterbatasan manusia yang mengoperasikannya. Manusia yang merupakan salah satu komponen dari suatu sistem kerja dengan segala aspek, sifat dan tingkah lakunya merupakan makhluk yang kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau dari satu segi ilmu saja. Oleh sebab itulah maka untuk mengembangkan ergonomi memerlukan dukungan dari berbagai disiplin keilmuan seperti kedokteran (faal/anatomi), psikologi, antropologi, biologi, di samping berbagai disiplin teknologi lainnya. Pendekatan khusus ergonomi ialah aplikasi yang sistematif dari segala informasi yang relevan, yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia di dalam perancangan peralatan, fasilitas dan ingkungan kerja yang dipakai.











BAB III

KESIMPULAN



Fokus perhatian ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man-made objects (proses perancangan produk) dan lingkungan kerja. Tujuan pokok ergonomi adalah terciptanya desain sistem manusia-mesin yang terpadu sehingga efektivitas dan efisiensi kerja bisa tercapai secara optimal. endekatan agro ergonomi ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Dengan demikian jelas bahwa pendekatan ergonomi akan mampu menimbulkan functional effectiveness dan kenikmatan-kenikmatan pemakaian dari peralatan fasilitas maupun lingkungan kerja yang dirancang.
Istilah dalam Psikologi!
April 4, 2007 pukul 3:02 am | Ditulis dalam Psikologi Umum | 10 Komentar

Beberapa istilah yang mungkin akan anda temui dalam psikologi! Dan berguna dalam mehami blog ini.:)

Anima : kata latin untuk “jiwa”, yang digunakan Jung untuk menunjukkan lapisan “bawah-sadar” yang lebih daripada “bayang-bayang”nya.
Asosiasi bebas (free-association) : metode “psikoanalisis” yang didalamnya seseorang secara terbuka melaporkan kepada terapis segala sesuatu yang memasuki pikiran sadarnya sewaktu hal itu muncul. Prosesnya sering berawal dengan pengajuan kata atau sejumlah kata secara acak oleh terapis. Bagi terapis, tujuannya adalah mendeteksi pengaruh “bawah sadar” yang mengendalikan asosiasi itu.
Bawah-sadar (unconscious): Aspek psiki yang mengandung segala sesuatu yang tidak mudah diakses ke bidang kesadaran terdekat.
Behaviorisme (behaviorism) : ilmu yang didirikan oleh John B. Watson dan dipopulerkan B.F Skinner, yang mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang aktivitas-aktivitas yang bisa diamati (yaitu perilaku).
Delusi (delusion) : keyakinan sesat yang tidak akan dilepas walaupun bukti kesesatannya dihadirkan.
Jiwa (soul) : salah satu dari tiga aspek kodrat manusia, yang keabadiannya dihadirkan oleh Plato dan lain-lain.
Neurosis : kondisi psikologis yang didalamnya pola perilaku abnormal timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan dalam menghadapi kecemasan dengan cara-cara yang bisa diterima secara sosial.

Rabu, 01 Februari 2012

Mekanisme Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah

Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah, dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah, khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling.

Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.

Oleh karena itu, disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera, penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik.

Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Siswa Bermasalah di Sekolah

Dengan melihat gambar di atas, kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu, kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.

Sebagai ilustrasi, misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya, diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah, serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah.

Perlu digarisbawahi, dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagaimana dalam bagan berikut :

Siswa Bermasalah di Sekolah3

Masalah (kasus) ringan, seperti: membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah.
Masalah (kasus) sedang, seperti: gangguan emosional, berpacaran, dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar, karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor), dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli/profesional, polisi, guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
Masalah (kasus) berat, seperti: gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminalitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus.

Secara visual, penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini:

Dengan melihat penjelasan di atas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

ahapan Proses Layanan Konseling Perorangan

Tahapan Proses Layanan Konseling Perorangan

Oleh : Akhmad Sudrajat

Proses Layanan Konseling IndividualDari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik, tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus

Dalam prakteknya, memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Oleh karena itu, guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling, sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah); (2) tahap inti (tahap kerja); dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

A. Tahap Awal

Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya :

Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan; dan kegiatan.
Memperjelas dan mendefinisikan masalah. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien.
Membuat penaksiran dan perjajagan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.
Menegosiasikan kontrak. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien, berisi: (1) Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan; (2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien; dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.

B. Inti (Tahap Kerja)

Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.

Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya :

Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya.
Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.
Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.

Hal ini bisa terjadi jika :

Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling, serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.
Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.

C. Akhir (Tahap Tindakan)

Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :

Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.
Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya.
Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya

Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ; (1) menurunnya kecemasan klien; (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis; (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya; dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

Selasa, 31 Januari 2012

klien dan konselor do bicara praktek

Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan padMlls digunakan untuk mengecek apakah klien memahami pentingnya tahap/langkah ini. lakukan terhadap masalah ini? Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pada klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangmencari pemecahan masalahMenentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Generalization dan transfer of learning Will you do it? a klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah Menentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita Menentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pada klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangYang paling umum digunakan adalah attending skills, khususnya the basic listening sequence (berurutan mulai dari open question, closed questions, encourager, parafrase, reflection of feeling, summarization. Umumnya berhasil, tetapi tidak kaku!! Penjelasan pada text book hal 211) Skil yang lain digunakan bila perlu. Jika masalah tidak jelas, barangkali Anda memerlukan tambahan influention skill. Penggalian aset positif sering membukakan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh klien yang berguna dalam ng skills digunakan untuk mengecek apakah klien memahami pentingnya tahap/langkah ini. Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pada klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangYang paling umum digunakan adalah attending skills, khususnya the basic listening sequence (berurutan mulai dari open question, closed questions, encourager, parafrase, reflection of feeling, summarization. Umumnya berhasil, tetapi tidak kaku!! Penjelasan pada text book hal 211) Skil yang lain digunakan bila perlu. Jika masalah tidak jelas, barangkali Anda memerlukan tambahan influention skill. Penggalian aset positif sering membukakan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh klien yang berguna dalam mencari pemecahan masalahMenentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Untuk mencari pemecahan dari masalah klien. Hal ini bisa meliputi pemecahan masalah kreatif (menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan dengan tidak menilai terlebih dahulu biar pun alternatifnya tampak bodoh dan tak masuk akal) untuk kemudian memutuskan alternatif mana yang akan diambil. Langkah ini memerlukan waktu yang paling lama dalam konselingDapat dimulai dengan suatu kesimpulan tentang discrepancy (ketidaksesuaian). Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk memungkinkan perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku dalam kehidupan klien sehari-hari. Banyak klien yang mengikuti konseling untuk kemudain tidak melakukan apa-apa untuk mengubah perilakunya, dan tetap hidup dengan pola seperti sedia kalaInfluencing skills, seperti directive dan information/explanation umumnya bermanfaat. Attendi Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pad Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pada klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga unt °Ð/ °à=!° "° #  $  %° Apa masalahnya? Menentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Generalization dan transfer of learning Will you do it? uk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangYang paling umum digunakan adalah attending skills, khususnya the basic listening sequence (berurutan mulai dari open question, closed questions, encourager, parafrase, reflection of feeling, summarization. Umumnya berhasil, tetapi tidak kaku!! Penjelasan pada text book hal 211) Skil yang lain digunakan bila perlu. Jika masalah tidak jelas, barangkali Anda memerlukan tambahan influention skill. Penggalian aset positif sering membukakan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh klien yang berguna dalam mencari pemecahan masalahMenentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Untuk mencari pemecahan dari masalah klien. Hal ini bisa meliputi pemecahan masalah kreatif (menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan dengan tidak menilai terlebih dahulu biar pun alternatifnya tampak bodoh dan tak masuk akal) untuk kemudian memutuskan alternatif mana yang akan diambil. Langkah ini memerlukan waktu yang paling lama dalam konselingDapat dimulai dengan kesimpulan tentang discrepancy (ketidaksesuaian). Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk memungkinkan perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku dalam kehidupan klien sehari-hari. Banyak klien yang mengikuti konseling untuk kemudain tidak melakukan apa-apa untuk mengubah perilakunya, dan tetap hidup dengan pola seperti sedia kalaInfluencing skills, seperti directive dan information/explanation umumnya bermanfaat. Attending ski¤Z \’_0f gfqhq t’w0~ @ŒBŒ Ž’‘0˜ ™ ¨ ¨R¨T¨Ê¨Ì¨ ª’­0´ µ Ä ÄRÄýúúúýýýúúúýýýúúúýýýýýýýúúúýýý $ a klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangYang paling umum digunakan adalah attending skills, khususnya the basic listening sequence (berurutan mulai dari open question, closed questions, encourager, parafrase, reflection of feeling, summarization. Umumnya berhasil, tetapi tidak kaku!! Penjelasan pada text book hal 211) Skil yang lain digunakan bila perlu. Jika masalah tidak jelas, barangkali Anda memerlukan tambahan influention skill. Penggalian aset positif sering membukakan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh klien yang berguna dalam mencari pemecahan masalahMenentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Untuk mencari pemecahan dari masalah klien. Hal ini bisa meliputi pemecahan masalah kreatif (menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan dengan tidak menilai terlebih dahulu biar pun alternatifnya tampak bodoh dan tak masuk akal) untuk kemudian memutuskan alternatif mana yang akan diambil. Langkah ini memerlukan waktu yang paling lama dalam konselingDapat dimulai dengan kesimpulan tentang discrepancy (ketidaksesuaian). Influencing skills amat dibutuhkan di sini. Attending skills juga dibutuhkan untuk menyeimbangkan.Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk memungkinkan perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku dalam kehidupan klien sehari-hari. Banyak klien yang mengikuti konseling untuk kemudain tidak melakukan apa-apa untuk mengubah perilakunya, dan tetap hidup dengan pola seperti sedia kalaInfluencing skills, seperti directive dan information/explanation umumnya bermanfaat. Attending skills digunakan untuk mengecek apakah klien memahami pentingnya tahap/langkah ini. RÄTÄÀÄÂÄýýý Untuk membangun kerja sama yang baik dengan klien dan untuk membuat klien merasa nyaman dengan konselor. Structuring dibutuhkan untuk menjelaskan tujuan dari konseling. Fungsi strukturing adalah untuk menjaga sesi pada tugas dan untuk menginformasikan pada klien apa yang konselor mampu dan tidak mampu lakukan.Attending behavior untuk membangun kontak dengan klien dan client observation skill untuk menentukan metode yang tepat untuk membangun rapport. Strukturing umumnya menggunakan influencing skill of information giving and instructions Apa masalahnya? Untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konsering dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength) Ingat bahwa klien bertumbuh dari kekuatannya: aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan!! So, harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk pertumbuhan di masa mendatangYang paling umum digunakan adalah attending skills, khususnya the basic listening sequence (berurutan mulai dari open question, closed questions, encourager, parafrase, reflection of feeling, summarization. Umumnya berhasil, tetapi tidak kaku!! Penjelasan pada text book hal 211) Skil yang lain digunakan bila perlu. Jika masalah tidak jelas, barangkali Anda memerlukan tambahan influention skill. Penggalian aset positif sering membukakan tentang kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh klien yang berguna dalam mencari pemecahan masalahMenentukan tujuan. Apa yang diinginkan oleh klien? Untuk mengetahui dunia ideal klien. Hal bagaimana yang diinginkan oleh klien? Bagaimana segala sesuatunya jika masalah dipecahkan? Langkah ini penting karena memungkinkan konselor untuk mengatahui apa yan gklien inginkan. Arah yang yang diinginkan klien dan konselor harus dibuat harmonis. Untuk beberapa klien, lewati langkah 2 dan tentukan tujuan terlebih dahulu.Mencari alternatif dan mengkonfrontasi client incongruities Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini? Untuk mencari pemecahan dari masalah klien. Hal ini bisa meliputi pemecahan masalah kreatif (menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan dengan tidak menilai terlebih dahulu biar pun alternatifnya tampak bodoh dan tak masuk akal) untuk kemudian memutuskan alternatif mana yang akan diambil. Langkah ini memerlukan waktu yang paling lama dalam konselingDapat dimulai dengan kesimpulan tentang discrepancy (ketidaksesuaian). Influencing skills amat dibutuhkan di sini. Attending skills juga dibutuhkan untuk menyeimbangkan.Generalization dan transfer of learning Will you do it? Untuk memungkinkan perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku dalam kehidupan klien sehari-hari. Banyak klien yang mengikuti konseling untuki pentingnya tahap/langkah ini. kemudain tidak melakukan apa-apa untuk mengubah perilakunya, dan tetap hidup dengan pola seperti sedia kalaInfluencing skills, seperti directive dan information/explanation umumnya bermanfaat. Attending skills digunakan untuk mengecek apakah klien memahamgkah ini. Tugas Studi Kasusu Konseling 1. Pilih subjek yang bersedia menjadi konselee Anda. Tiap *Langkah-langkah dalam melakukan konseling:*langkah-langkah="" 0="" ="" &=""  ¥[õ¤ âtujuan="" (berurutan="" (contoh="" (kata="" (ketidaksesuaian).=""