Blogroll

SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf
SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf

Rabu, 02 November 2011

PENELITIAN KUANTITATIF, PARADIGMA, DAN PROSEDUR PENELITAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUANTITATIF, PARADIGMA, DAN
PROSEDUR PENELITAN KUANTITATIF

  1. PENELITIAN KUANTITATIF
Penelitian kuantitatif biasanya dipakai untuk menguji teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan ststistik,  untuk menunjukkan hubungan antar variabel dan adapula yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman atau mendeskripsikan banyak hal.
Metode yang sering digunakan adalah eksperimental deskripsi, survei dan menemukan korelsional. Penelitian kuantitatif menyajikan proposal yang bersifat lengkap, rinci, prosedur yang spesifik, literatur yan lengkap dan hipotesis yang dirumuskan dengan jelas pada penelitian kualitatif proposalnya lebih lngkap dan tidak banyak kajian literature,  pendekatan dijabarkan secara umum, dan biasanya tidak menyajikan rumusan hipotesis.
 Craig, 1985 merumuskan langkah-langkah penelitian ilmiah:
  1. Identifikasi masalah
  2. merumuskan hipotesis
  3. mendefinisikan istilah
  4. melakukan penelitian atau melakukan observasi lapangan.
  5. analisa data
  6. mengembil kesimpulan

B.     Pengertian Paradigma

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik.  Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs, sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.
Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi.
Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan.
Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas.
Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan.
 Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan:
  1. Apa yang harus dipelajari
  2. Persoalan-persoalan apa yang harus dijawab
  3. Bagaimana metode untuk menjawabnya; dan
  4. Aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.

C.     Paradigma Penelitian Kualitatif

Ada pernyataan dari Egon G. Guba yang cukup menarik untuk ditanggapi di sini, yaitu bahwa “A paradigm may be viewed as set of basic beliefs (or metaphisies) that deals with ultimetes or principles[7]. Keyakinan itu, menurut Guba, merepresentasikan pandangan dunia tentang hakikat sesuatu, serta merupakan dasar di dalam nurani dimana ia diterima dengan penuh kepercayaan. Sesuatu yang diyakini kebenarannya tanpa didahului penelitian sistematis, dalam filsafat ilmu, disebut dengan aksioma atau asumsi dasar. Keyakinan (beliefs), aksioma atau asumsi dasar tersebut menempati posisi penting dalam menentukan skema konseptual penelitian, ia merupakan dasar permulaan yang melandasi semua proses dan kegiatan penelitian.
Berkait dengan proposisi di atas, penelitian kuantitatif memiliki perbedaan paradigma yang amat mendasar dengan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926).
Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge)  yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.
Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang mempengaruhi/dipengaruhinya,  cukup banyak, karena itu tidak mungkin menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis.

STEP-STEP PENELITIAN KUANTITATIF

1)      Menemukan Dan Merumuskan Masalah Penelitian
Salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan kualitas sebuah penelitian ilmiah adalah rumusan masalah. Dalam hal ini yang dimaksud masalah adalah masalah ilmiah penelitian (scientific research problems). Masalah penelitian inilah yang akan dipecahkan atau dicarikan solusinya melalui suatu proses penelitian ilmiah.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa-apa yang benar-benar terjadi. Masalah penelitian adalah sebuah pertannyaan yang memerlukan jawaban berupa penjelasan yang dapat dirumuskan melalui proses penelitian, baik penjelasan deskriptif tentang suatu variabel atau fenomena tertentu maupun penjelasan tentang hubungan antar variabel.
Penciptaan sebuah masalah penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada pembuatan sebuah proposisi (Teori atau Hipotesa) yang belum diuji kebenarannya) yang kerangka acuannya adalah hasil pengkajian mengenai kaitan hubungan antara sejumlah teori yang suda ada dan relevan
Sumber masalah
Masalah itu akan bisa diidentifikasi jika :
  1. ada kesenjangan antara cita dengan realita.
  2. ada kesenjangan antara teori dengan praktek dalam kehidupan
  3. ada kesenjangan antara perencanaan dengan realisasi lapangan, atau
  4. ada tantangan, keingin tahuan tentang sesuatu yang belum ada penjelasannya.
Untuk memunculkan masalah itu harus ada argumentasi rasional; unruk itu peneliti harus menjelaskan deduksi lahirnya masalah dengan logika. Diawali dengan paparan tentang cita, lalu masuk pada realita, lalumuncul masalah penelitian.

Cara memperoleh masalah
Cara memperoleh masalah penelitian dapat dilakukan dengan cara:
  1. Observasi
Masalah penelitian dapat diperoleh dengan cara melakukan pengamatan dalam kehidupan disekeliling kita.
  1. Brainstorming
Masalah penelitian bisa ditemukan dengan cara Brainstorming. Barainstorm9ng terjadi ketika dua atau tiga orang mengeluarkan ide sebanyak mungkin tentang suatu penelitian yang akan dibahas. Jangan dijadikan masalah jika ada beberapa perbincangan yang kurang pas. Peneliti harus menyaring lagi mana ide yang relefan untuk diteliti.
  1. Membaca hasil penelitian.
Mempelajari hasil penelitian sebelumnya membantu kita menyadari adanaya masalah sehingga membuat kita bisa merumuskan maslah yang baru. Dengan membaca hasil penelitian orang lain maka kita akan mendapatkan bahan-bahan apa yang harus kita pelajari berkaitan dengan maslah kita.
  1. Perkembangan Teknologi
Penggunaan suatu teknologi baru minimal muncul dua tipe penelitian. Teknologi baru memungkinkan peneliti untuk meneliti masalah lama dibandingkan dengan cara baru. Tipe kedua bahwa teknologi baru memungkinkan munculnya masalah penelitian yang baru sebagai contoh dengan adanya pnemuan baru dalam bidng komputer telah melahirkan program baru seperti artivicial intelegence.
  1. Pngetahuan tentang research literature
Jika kita familiar dengan research literature dapat membantu kita untuk memperoleh maslah. Anda bisa  membaca jurnal danmembaca abstrak penelitian.

Bentuk-bentuk maslah penelitian dalam pendidikan:
  1. Deskriptif:
Adalah masalah untuk penelitian dengan variabel tunggal baik hanya satu variabel atau lebih yang tidak salaing berhubungan. Penelitian ingin mengetahui status danmendeskripsikan fenomena. Yang termasuk penelitian deskriptif antara lain : penelitian surfei, penelitian historis, penelitian filosofis.
  1. Komparatif
Yankni rumusan maslah yang memfokuskan kajian terhadap analisis perbandingan tentang satu variabel atau lebih pada dua atau lebih kelompok sampel.
  1. Assosoatif
Adalah masalah penelitian yang memfokuskn pada kajian hubungan antar fariabel, baik hubungan simetris, kausalitas, maupun resiprocal atau suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih.
  
2)      Proposisi dan Hipotesis

a.       Proposisi
Proposisi adalah kesimpulan teoritik konsepsional tentang konstelasi hubungan antar variabel sebagai jawaban teoritik. Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya, mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena-fenomena. Proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris disebut hipotesis.
Dalam ilmu mantiq disebut sebagai Qadhiyah. Artinya suatu perkataan yang berfaidah, yang mengadung kemunkinan benar atau salah, dengan melihat perkataan itu sendiri (artinya) tidak dilihat dari siapa yang mengatakannya.
Proposisi membenarkan sesuatuatau mengingkarinya,. Tiap proposisi membutuhkan tiga fakta:
1)      Adanya pernyataan yang  diberi hukum “ya” atau “tidak”.
2)      Adanya lafadh yang mememberi hukum kepada yang lain.
3)      Adanya lafadh yang menjadi alat penghubung antara dua lafadh disebut proposisi.
Proposisi mempunyai tiga bagian, yakni subjek, predikat, dan kopula (tanda yang menyatakan hubungan antara subjek dan objek).
Kegunaan Proposisi dalam Metodologi Penelitian
Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya, mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena.
Cara-cara Merumuskan Proposisi
Proposisi dirumuskan dalam bentuk If-Then.
Cara merumuskan proposisi
Setiap akhir sebuah pembahasan toritik akan menghasilkan definisi konsepsional. Analisis konstalasi antar definisi konsepsional itu akan melahirkan proposisi atau kerangkaberfikir yang menggambarkan arah hubungan antar variabel. Proposisi adalah kesimpulan teoritik konsepsional tentang konstalasi hubungan antar variabel sebagai jawaban teoritik terhadap masalah penelitian.

b.      Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah  yang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawabanyang benar maka seseorang ilmuwan seakan-akan melakukan interogasi terhadap alam.
Kegunaan Hipotesis
1)      Mengarahkan penelitian. Misalnya relasi dan hubungan yang diungkapkan dalam hipotesis akan memberitahukan hal-hal yang dilakukan oleh peneliti.
2)      Masalah dan hipotesis membuat peneliti mampu mendeduksi manifestasi empiris tertentu yang tercakup dalam masalah serta hipotesis itu, karena masalah dan  hipotesis pada umumnya merupakan pernyataan yang reasional.

Macam-macam hipotesis
1)      Hipoteis Nol (null hypotheses)
Hipotesi nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian bersifat bersifat statistik, yaitu diuji dengan hitungan statistik.
2)      Hipotesis kerja
Disebut dengan hipotesis alternatif yang disingkat dengan Ha. Hipotesis kerja menyatakan hubungan antara variabel variabel X dan variabel Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

VARIABEL
Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Variabel merupakan pengelompokan secara logis dari dua atau lebih atribut dari objek yang diteliti. Atribut itu misalnya : Tidak sekolah, tidak tamat SD, tidak tamat SMP. Maka variabelnya adalah tingkat pendidikan dari objek penelitian itu. Variabel tingkat pendidikan merangkum semua atribut tadi.
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:99) variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Hajar (1999:156) yang mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena yang diteliti. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1982:437) variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.
Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi kata variabel berarti dapat berubah. Oleh sebab itu setiap variabel dapat diberi nilai, dan nilai itu berubah-ubah. Nilai itu berupa nilai kuntitatif maupun kualitatif. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya.
Dilihat dari segi nilainya, variabel dibedakan menjadi dua, yaitu variabel diskrit dan variabel kontinu. Variabel diskrit nilai kuantitatifnya selalu berupa bilangan bulat, Variabel kontinu nilai kuantitatifnya bisa berupa pecahan.

DATA
Data adalah hasil pengukuran atau penghitungan nilai-nilai suatu variabel. Yang dimaksud dengan pengolahan data pada prinsipnya adalah upaya penyajian dan pembacaan hubungan-hubungan yang ada antarvariabel. Menurut Narbuko dan Ahmadi, hubungan antarvariabel dapat berupa:
a)      Hubungan simetris, yaitu hubungan variabel yang satu tidak disebabkan oleh yang lainnya
b)      Hubungan timbal balik, yaitu hubungan suatu variabel dapat menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya
c)      Hubungan asimetris, yaitu hubungan variabel satu mempengaruhi variabel lainnya..

Yang termasuk hubungan variabel simetris
1)      Kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Misalnya: Kalau “mengerjakan cepat selesai” sedang “hasilnya tepat”, maka kedua variabel tersebut merupakan indikator dari seorang yang intelegen”. Hal ini dapat diartikan kalau “karena cepat” lalu “hasilnya tepat” atau sebaliknya; “jantung yang berdenyut semakin cepat sering dibarengi keluarnya keringat tanda kecemasan“ namun demikian, tidak kdapat dikatakan “jantung yang berdebar cepat menyebabkan tangannya berkeringat” dan sebagainya.
2)      Variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama; meningkatkan pelayanan kesehatan dibarengi pula dengan bertambahnya pesawat udara. Kedua variabel tidak saling mempengaruhi, tetapi keduanya merupakan akibat dari peningkatan pendapatan.
3)      Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, “dimana yang satu beradayang ;lainnya pun pasti di sana”. “Di mana ada guru, di sana ada murid”, di mana ada majikan, di sana ada buruh”.
4)      “Hubungan yang kebetulan semata-mata”. Seorang bayi ditimbang lalu mati keesokan harinya. Berdasarkan kepercayaan, kedua peristiwa tersebut dianggap berkaitan, tetapi di dalam penelitian empiris tidak dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut meninggal karena ditimbang.

Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel adalah penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan kosep yang abstrak dengan realitas. Proses pengukuran mengandung empat kegiatan pokok sebagai berikut:
1)      menentukan indikator untuk dimensi-dimensi variabel penelitian.. Variabel penelitian sosial pada umumnya memiliki lebih dari satu dimensi. Semakin lengkap dimensi yang digunakan dari satu variabel yang dapat diukur akan semakin baik hasil pengukurannya.
2)      Menentukan masing-masing dimensi. Ukunan ini dapat berupa item (pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya.
3)      Menentukan ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran apakah tingkat ukuran nominal oardinal, interval atau rasio.
4)      Menguji tingkat validitas dan areliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik. Alat pengukur yang baik, apabila alat itu dapat mengungkap relaita itu dengan tepat.
Populasi dan Sampel
  1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian menurut Suharsimi (1998:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian.
  1. Sampel Penelitian
Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol.

MODEL-MODEL PENELITIAN,

MODEL-MODEL PENELITIAN,
DISTINGSI ANTARA SATU DENGAN LAINNYA

MODEL-MODEL PENELITIAN
1.      Berdasarkan Tempat
a.       Penelitian Pustaka
Suatu penelitian yang dilakukan diruang perpustakaan untuk menghimpun dan menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, periodikal-periodikal, seperti majalah-majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala, kisah-kisah sejarah, dokumen-dokumen dan materi fokus lainnya, yang dapat dijadikan sebagai sumber rujukan untuk menyusun suatu laporan ilmiah.
b.      Penelitian Laboratorium
suatu penelitian yang dilakukan dalam laboratorium yaitu suatu tempat yang dilengkapi perangkat khsus untuk melakukan penyelidikan terhadap segala gejala tertentu melalui tes-tes stau uji yang juga dilakukan untuk menyusun laporan ilmiah.
c.       Penelitian Lapangan
yaitu suatu penelitian yang dilakukan dilapangan atau lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif sebagai terjadi dilokasi tersebut, yang digunakan juga untuk penyusunan laporan ilmiah.
Berdasarkan Sifat
Ditinjau dari segi sifatnya, penelitian dibedakan dalam 3 macam, yaitu:
  1. Penelitian dasar
    Penelitian yang bermula darikenyatan objektif yang diamati secara empirik, kemudian ditelaah melalui analisis untuk disusun sebagai laporan ilmiah. Penelitian semacam ini biasanya dilakukan untuk penelitian suatu teori melalui pengujian hipotesis, yang dirumuskan berdasarkan teori tertentu karena belum ada teori yang berkaitan dengan kenyataan objektif yang sedang diamati
  2. Penelitian Vertical
    Yaitu penelitian yang bermula dari teori yang ada, kemusian dihubungkan dengan kenyataan objektif yang di amati secara empirik yang ditelaah melalui analisis ilmiah sebagai koreksi atas kebenaran teori tersebut. Hasil penelaahan bisa mengukuhkan teoriyang diperiksa bisa juga menolaknya, tumbanglah teori yang diperiksa dan lahirlah teori yang baru.
  3. Penelitian Survey
    yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap segala yang berlangsungdi lokasi penelitian. Lazimnya dilakukan terhadap suatu unit sampel bukan terhadap suatu unit sasaran.
Berdasarkan Jenis
a.       Penelitian Eksploratif
Yaitu suatu penelitian yang bermaksud mengadakan penjajakan atau pengenalan terhadap gejala tertentu. Dalam penelitian ini diperlukan rujukan teori dan belum digunakan hipotesis.
b.      Penelitian Deskriptif
yaitu suatu penelitian yang bermaksud mengadakan pemeriksaan dan pengukuran-pengukuran terhadap gejala-gejala tertentu. Dalam penelitian macam ini landasan teori mulai diperlukan. Tetapi mulai digunakan sebagai landasan untuk menentukan editorial kriteria pengukuran terhadapa yang diamati dan akan diukur.
c.       Penelitian konformatif
yaitu suatu penelitian yang bermaksud menelaah dan menjelaskan pola hubungan antara dua fariabel atau lebih yang jenis ini dukunga teori telah dibutuhkan, baik untuk digunakan sebagai landasan dalam mengajukan hipotesis maupun untuk menntukan kriteria pengukuran terhadap adanya hubungan antara variabel-variabel yang diteliti, diantaranya melalui pengujian hipotesis.
  1. Menurut fungsi
a.       Penelitian terapan, penelitian untuk memperoleh kejelasan hubungan antar fakta data informasi,guna pemecahan masalah.
b.      Penelitian dasar: Penelitian untuk menemukan keteraturan/ order berbentuk prinsip, dalil/kaidah, hukum atau teori guna pengembangan ilmu.
  1. Menurut Pendekatan Penelitian kuantitatif/positifistik:
d.      Penelitian bersifat obyektif, kuantitatif, fixed, menggunakan instrumen standar, guna menghasilkan inferensi, generalisasi prediksi.
e.       Penelitian kualitatif / naturalistik: Penelitian bersifat holistik, kualitatif, subyektif, terbuka, integral, konteksual, rasional, menggunakan penelitian sebagai instrumen, guna menghasilkan deskripsi yang utuh dari suatu keadaan.
2.      Menurut Sifat
a.       Penelitian deskriptif: Meneliti kondisi dan situasi yg ada sekarang, berupa gambaran / keterkaitan antar hal tanpa pengontrolan terhadap hal-hal lainnya.
b.      Penelitian eksperimental: Mengadakan pengujian hubungan sebab akibat antar variabel dengan pengontrolan terhadap variabel-variabel lainnya.
c.       Penelitian histori: Meneliti peristiwa-peristiwa yg telah terjadi di masa yg lampau.
d.      Penelitian Pengembangan: Meneliti laju perkembangan sesuatu (individu, organisasi, lembaga, dsb) / mengenbangkan hal baru (model, paradigma, sistem software, dll)

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN 01

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN

  1. Pengertian, Fungsi, dan Kegunaan Metodologi Penelitian
Istilah metodologi berasal dari bahasa Yunani, yakni methodos dan logos. Kata methodos sendiri berasal dari kata meta dan hetodos.
            Meta berarti : menuju, melalui, mengikuti, dan sesudah.
            Hodos berarti : jalan, perjalanan, cara-cara.
Sehingga kata methodos berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, dan uraian ilmiah (imam, 2006). Dengan demikian metode ialah cara-cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Ia merupakan langkah-langkah sistematis yang digunakan dalam ilmu-ilmu tertentu.
Adapun metodologi, ia merupakan logos atas methodos. Berarti menunjukan proses, prinsip, dan prosedur yang dilakukan untuk mendekati masalah, dan mencari jawaban atasmasalah tersebut. Metodologi mengkaji cara-cara mendapatkan pengetahuan ilmiah. Dengan pengertian lain, metodologi ialah : “Ilmu-ilmu yang membahas tentang metode-metode”.
Sedangkan penelitian adalah terjemahan dari bahasa inggeris “Research”, ada yang mengatakan research menjadi riset. Kata research berasal dari kata Re yang berarti kembali, dengan “to search” yang berarti mencari. Dengan demikian arti dari research ialah mencari kembali.
Menurut Withney (1960), ia mengutip dafinisi penelitian dari beberapa ahli, salah satunya dari john (1949) yang mengatakan penelitian adalah suatu pencarian faktamenurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antarafakta dan menghasilkan dalil atau hukum.
Menurut Arief Furchan dalam bukunya Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, jika penelitian ilmiah diterapkan untukmenyelidiki masalah-masalah pendidikan, maka hasilnya ialah penelitian pendidikan.
Penelitian pendidikan ialah cara yang dilakukan orang untik mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan serta mengenai proses kependidikan. Traves merumuskan penelitian pendidikan sebagai : “Suatu kegiatan yang diarahkan kepada pengembangan pengetahuan ilmiah tentang kejadian-kejadian yang menarik perhatian para pendidik”.
Tujian penelitian pendidikan ialah menemukan prinsip-prinsip umum, atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan, meramalkan dan mengendalikan kejadian-kejadian dalam lingkungan pendidikan. Dengan kata laintujuannya ialah untuk memperoleh teori ilmiah.

  1. Hakekat Metodologi Penelitian
Metode penelitian pendidikan mengkaji konsep-konsep, prinsip, pendekatan, metode dan teknik penelitian pendidikan. Dibahas pula tentang penerapan teori-teori penelitian dalam praktek di lapangan, khususnya dalam bidang studi pendidikan umum.
Metode penelitian pendidikan perlu dikuasai oleh calon tenaga kependidikan dan mereka yang berprofesi kependidikan dalam upaya pencanderaan dan pengembangan kebijakan dan program-program pendidikan yang menjadi tugasnya.

  1. FUNGSI PENELITIAN
Menurut Nuraida (2008), fungsi penelitian itu ada enam, salah satunya ialah untuk menemukan dan menduduki wilayah-wilayah pengetahuan yang baru atau dengan kata lain bisa dikatakan invention, innovation, discoveries, dan teknologi baru.

VARIABEL PENELITIAN DAN PARADIGMA HUBUNGAN


VARIABEL PENELITIAN DAN PARADIGMA HUBUNGAN

Variabel adalah simbol atau abstrak yang diasumsikan sebagai seperangkat nilai-nilai. Dalam penelitian dikenal dengan beberapa istilah variabel antara lain :
  1. Variabel bebas adalah variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain, biasanya dinotasikan dengan symbol X. Variabel ini juga sering disebut independen variabel (IV) atau variabel penyebab. Dalam penelitian keprilakuan organisas, variabel bebas ini terbagi menjadi 3 kelompok yaitu variabel tingkat individu, variabel tingkat kelompok dan variabel tingkat organisasi. Karakteristik yang paling jelas dari variabel tingkat individual adalah karakteristik pribadi atau yang berkaitan dengan demografi seperti usia, gender, status pernikahan, karakteristik pribadi, kerangka emosional bawaan, nilai dan sikap kerja serta level kemampuan dasar.  Motivasi juga termasuk ke dalam variabel tingkat individual.Sedangkan karakteristik variabel tingkat kelompok meliputi kepemimpinan, konflik, komunikasi, dan lainnya. Variabel tingkat sistem organisasi meliputi desain organisasi, budaya organisasi, pelatihan, metode evaluasi kinerja dan lainnya.
  2. Variabel terikat (dependen variable) adalah variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas, biasa dinotasikan dengan Y. Dalam perilaku organisasi, variabel-variabel dependen ini antara lain terdiri dari produktivitas / kinerja, mangkir / tingkat absensi, turnover, perilaku menyimpang di tempat kerja, organizational citizenship behavior (OCB), dan kepuasan kerja. Sedangkan dalam bidang pendidikan, disiplin siswa, prestasi belajar, tingkat kelulusan, dan sebagainya bisa ditetapkan sebagai variabel dependen.
  3. Variabel moderator adalah variabel yang memiliki pengaruh memperkuat atau memperlemah hubungan variabel bebas dengan variabel terikat, biasa dinotasikan dengan X atau Z. Karakteristik dasar dari variabel moderator adalah lebih sulit berubah dalam jangka waktu tertentu. Misalnya budaya, personality, jenis kelamin, dan lainnya. Contoh :  Pengaruh Kemampuan terhadap Kinerja. Variabel moderatornya adalah kepribadian dan usia. Artinya, pengaruh kemampuan terhadap kinerja akan semakin kuat jika kepribadian adalah tipe A, dan usia yang relatif muda.
  4. Variabel intervening / mediator adalah variabel yang secara konkrit tidak kelihatan, tetapi secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dengan terikat, sehingga menyebabkan hubungan antara X dengan Y menjadi hubungan yang tidak langsung, biasa dinotasikan dengan X atau Z. Karakteristik dasar dari variabel intervening / mediator / perantara / variabel proses adalah relative lebih mudah berubah. Contohnya : Mood, Kepuasan, atau variabel sikap lainnya.
  5. Variabel control adalah variabel yang dikontrol (dikendalikan atau dibuat konstan) oleh peneliti untuk mengurangi pengaruhnya terhadap gejala yang sedang dikaji, biasa dinotasikan dengan X atau Z. Contoh : Pengaruh metode pembelajaran terhadap prestasi siswa. Variabel kontrolnya yang dibuat konstan adalah guru yang sama, kondisi kelas yang sama, usia siswa yang relative sama, dan lainnya.
PARADIGMA HUBUNGAN
Dalam penelitian asosiatif/korelasional dikenal dengan istilah hubungan simetris, kausal/sebab akibat, dan hubungan reciprocal/timbal balik.
Hubungan simetris adalah suatu hubungan karena munculnya bersama-sama, atau bila X ada maka Y ada. Misalnya ada hubungan dengan datangnya kupu-kupu dengan tamu. Kalau ada kupu-kupu masuk rumah diramalkan akan ada tamu, namun yang menyebabkan datangnya tamu bukan kupu-kupu.
Model hubungan ini adalah tanpa arah, atau tidak menyelidiki siapa yang mempengaruhi dan siapa yang dipengaruhi. Yang diselidiki biasanya adalah pola hubungannya yang negatif atau positif atau hubungannya lemah, sedang, atau tinggi. Jika pola hubungan positif, maka semakin tinggi X maka semakin tinggi Y. Dan sebaliknya jika hubungannya negatif maka semakin tinggi X maka semakin rendah Y.
Atau juga akan diketahui kekuatan hubungan, misalnya nilai korelasinya adalah 0,70, maka dapat dikatakan bahwa hubungan yang terjadi adalah kuat.
Hubungan Kausal atau hubungan sebab akibat, bila X maka Y. Artinya jelas bahwa ada yang mempengaruhi dan ada yang dipengaruhi.
Contohnya adalah Pengaruh Promosi terhadap Penjualan. Pada hubungan kausal ini akan dengan jelas memperlihatkan besaran pengaruh yang ditimbulkan oleh promosi terhadap penjualan. Artinya jika promosi sekian, maka penjualan dapat diprediksi sekian juga.
Hubungan resiprocal atau hubungan timbal balik yaitu X dan Y saling mempengaruhi. Misalnya hubungan antara kepuasan dan kinerja. Di satu sisi, dengan tingginya kepuasan kerja akan meningkatkan kinerja, namun disisi lain, prestasi kerja justru yang menyebabkan kepuasan kerja (lihat teori harapan Vroom yang memasukkan variabel ketiga dari pola hubungan kinerja – reward – kepuasan kerja – kinerja lagi)
Dirangkum dari berbagai sumber.

Senin, 24 Oktober 2011

Personil Pelaksana Pelayanan Bimbingan

a.      Personil Pelaksana Pelayanan Bimbingan
          Personil pelaksan pelayanan bimbingan di sekolah adalh segenap unsure yang terkait di dalam organisasi pelayanan bimbingan, dengan coordinator dan guru pembimbing/ konselor sebagai pelaksana utamanya.
Adapun uraian tugas masing-massing personil tersebut adalh sebagai :
1)      Kepala sekolah : sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan secara menyeluruh di sekolah yang bersankutan, yang bertugas :
a)   . Mengkoordinasi segenap kegiatan yang di programkan di sekolah, sehingga kegiatan pengajaran, pelatihan, dan bimbingan merupakan satu-satu kesatuan yang terpadu, harmonois dan dinamis.
b)  . Menyediakan prasaran, tenaga sarana dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan yang efektif dan efesien.
c)   . Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upya tindak lanjut pelayanan bimbingan
2)      Wakil Kepala Sekolah
         Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas  kepala sekoalah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling.
3)      Koordinator Bimbingan
         Coordinator bimbingan bertugas mengkoordinasi para guru pembimbing dalam :
a)   . Memasyarakatkan pelayanan bimbingan konseling kepada segenap warga sekolah, orang tua, dan masyarakat.
b)  . Menyusun program bimbingan.
c)   . Melaksanakan program bimbingan
d)  . Menilai program dan pelaksanaan bimbingan
e)   . Memberikan tindak lanjut terhadap hasil penilaian
4)      Guru Pembimbing/ Konselor
         Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, guru pembimbing/konselor bertugas:
a)    . Memasyarakatkan pelayanan bimbingan
b)   . Merencanakan program bimbingan
c)    . Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan
d)   . Melaksanakan tindak lanjut berdasrkan hasil penilaian
e)    . Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan kepada koordinato bimbingan
5)      Guru Mata Pelajaran / Pelatih
         Sebagai tenaga ahli pengajar dan pelatih dalam mata pelajaran atau program latihantertentu, dan sebagai personil yang sehari hari langsung berhubungan dengan siswa, peranan guru mata pelajaran dan pelatih dalam pelayanan bimbingan adalah:
a)      Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada siswa
b)      Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswayang memerlukan layanan / kegiatan bimbingan untuk mengikuti menjalani layanan kegiatan yang dimaksud
c)      Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan tindak lanjutnya
6)      Wali Kelas
            Sebagai pengelola kelas tertentu, dalam pelayanan bimbingan wali kelas berperan:
a).        membantu guru pembimbing / konselor melaksanakan  tugas-tugas khusus di kelas yang menjadi tanggung jawabnya
b).        membantu guru mata pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan, khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
c).        membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk mengikuti layan / kegiatan bimbingan