Blogroll

SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf
SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf

Jumat, 01 Juli 2011

Keunggulan dan kelemahan Wawancara dan Questionaire

 
Metode Pengumpulan Data
Keunggulan
Kelemahan
Mail Questionaire
·        Kerahasiaan reponden terjaga.
·        Mempunyai sebaran responden secara geografis luas
·        Souvenir  dapat disertakan agar memotivasi responden
·     Responden memiliki kebebasan mengatur waktu pengisian sesuai pfererensi mereka masing-masing
·        Dapat dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi informasi. Misal lewat e-mail, fax dan lain sebagainya.

·        Tingkat pengembalian relatif rendah (biasanya di bawah 30% dari responde yang mengisi kuesionaer)
·        Jika ada yang tidak jelas, responden tidak dapat meminta penjelasan
·        Diperlukan prosedur tambahan untuk memproses yang tidak kembali
Electronik Questionaire
·        Mudah untuk mengelolanya
·        Mempunyai daya jangkau luas
·        Sangat murah
·        Sangat cepat untuk dikirimkan
·        Responden memiliki kebebasan mengatur waktu pengisian sesuai preferensi mereka masing0masing
·        Responden harus dapat mengoperasikan komputer secara baik
·        Responden harus mempunyai akses yang cukup leluasa pada internet.
Telephone Questionaire
·        Lebih murah dan lebih cepat dari personel interview
·        Dapat menjangkau area geografis luas
·        Tingkat kerahasissan lebih tinggi dari personal interview
·        Tidak dapat melihat nonverbal clues
·        Proses wawancara harus singkat
·        Data nomor telephon dapat berubah, sehingga memungkinkan sekelompok responden harus dibatalkan sebagai sampel karena tidak dapat dihubungi
Personally Administred Questionaire
·        Dapat memotivasi responden serta identifikasi non-verbal clues
·        Keraguan dari responden dapat dikurangi, karena peneliti dapat memklarifikasi pertanyan responden
·        Hampir 100% dari kuesionaire dapat diterima kembali
·        Tingkat kerahasiaan tinggi

·        Organisasi tempat responden bekerja kemungkinan akan keberatan, jika karyawannya harus mengisi kuesioner di tempat kerja, Karen aakan mengganggu pekerjaan.
Keunggulan dan kelemahan Wawancara dan Questionaire
Personal or face to face
·        Dapat memotivasi responden
·        Dapat berbagai kebingungan yang dialami responden
·        Dapat menangkap aspek non verbal dari responden saat menjawab
·        Data dapat diperkaya dengan bernagai macam pertanyaan tambahan, bila di pandang perlu
·        Memerlukan waktu banyak
·        Biaya akan menjadi besar bila harus meng-over letak geografis besar
·        Responden mungkin sangat tertutup mengngat mereka harus memberikan informasi kepada orang asing
·        Penelitit harus memiliki bekal keahlian untuk melakukan wawancara
·        Responden dapat berhenti dalam menjawab pertanyaan serta meminta wawancara dihentikan, apabila dia merasa tidak nyaman dengan proses wawancara tersebut

METODE PENELITIAN huda


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Pendekatan Penelitian

Ada dua macam pendekatan dalam penelitian yaitu pendekatan kuantitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamati dan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan bekerja dengan informasi-informasi data dan di dalam menganalisanya tidak menggunakan analisa data statistik.
Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif action research. Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh penggunaan media audio dalam layanan bimbingan belajar terhadap peningkatan minat belajar siswa, dengan mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil pre-test dan post-test .
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
  1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di SMU Negeri  
  1. Waktu
Penelitian ini dilakukan pada awal bulan Oktober dan menganalisis data pada akhir Oktober 2011.

C.    Variabel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (1998:99) variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.Hal ini senada dengan pendapat Ibnu Hajar (1999:156) yang mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena yang diteliti. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1982:437) variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Dalam suatu penelitian eksperimen, Sutrisno Hadi (1982:437) membedakan variabel menjadi dua yaitu:
a.    Variabel Eksperimen atau treatment variabel yaitu kondisi yang hendak diselidiki bagaimana pengaruhnya terhadap gejala atau behaviour variable
b.   Variabel non eksperimental yaitu variabel yang dikontrol dalam arti baik untuk kelompok eksperimental
Sedangkan Suharsimi Arikunto (1998:101) membedakan variabel menjadi dua yaitu variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas, atau independent variabel (X), dan variabel akibat yang disebut variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat, atau dependent variabel (Y).
Berdasarkan pendapat diatas, dalam penelitian ini terdiri dari variabel eksperimental yang meliputi:
1. Variabel bebas   : Penggunaan media audio kaset
2. Variabel terikat : Peningkatan minat belajar siswa

Sedangkan variabel non-eksperimetal dalam penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, dan prestasi belajar.

D.    Desain dan Paradigma Penelitian
1.      Desain Penelitian
Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Dalam penelitian eksperimental, desain penelitian disebut desain eksperimental. Desain eksperimen dirancang sedemikian rupa guna meningkatkan validitas internal maupun eksternal.
Suharsimi Arikunto (1998:85-88) mengkategorikan desain eksperimen murni menjadi 8 yaitu control group pre-test post test, random terhadap subjek, pasangan terhadap subjek, random pre test post test , random terhadap subjek dengan pre test kelompok kontrol post test kelompok eksperimen, tiga kelompok eksperimen dan kontrol, empat kelompok dengan 3 kelompok kontrol, dan desain waktu. 
Sutrisno Hadi (1982:441) mengkategorikan desain eksperimen menjadi enam yaitu simple randomaized, treatment by levels desaigns, treatments by subjects desaigns, random replications desaigns, factorial designs, dan groups within treatment designs. Sedangkan Ibnu Hadjar (1999:327) membedakan desain penelitian eksperimen murni menjadi dua yaitu pre test post test kelompok kontrol dan post tes kelompok kontrol.
Dalam penelitian eksperimen murni, desain penelitian yang populer digunakan adalah sebagai berikut:
a.              Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol
Desain ini subjek ditempatkan secara random kedalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment.
Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre tes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan.
b.              Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol
Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol). Dari desain ini efek dari suatu perlakuan terhadap variabel dependen akan di uji dengan cara membandingkan keadaan variabel dependen pada kelompok eksperimen setelah dikenai perlakuan dengan kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
c.               Solomon four group design
Desain ini menuntut penempatan subjek secara random kedalam empat kelompok. Pada kelompok 1 dan 2 diberi pre tes dan post test dan hanya kelompok 1 dan 3 yang dikenai perlakuan eksperimen.
Kelemahannya adalah memerlukan subjek dua kali lipat jumlah subjek untuk desain eksperimen.

Dalam penelitian ini digunakan desain Pre Tes Post Test Control Group. Desain penelitian eksperimen  yang digunakan adalah sebagai berikut:
Kelompok
Pre-test
Perlakuan
Poast-test
KE
K – 1
Media Audio Kaset
K –2
KK
K – 1
-
K - 2

Keterangan :
KE       : Kelompok Eksperimen
KK      : Kelompok Kontrol
K-1      : Pre Test
K-2      : Post Test

2.      Paradigma Penelitian
Kelinger (1993:484) mengartikan paradigma penelitian sebagai model relasi antara variabel-variabel dalam suatu kajian penelitian. Paradigma dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
a.      
Tretmen media audio kaset
 
Tingkat minat belajar
 
Paradigma Kelompok Eksperimen
                                          



 
 

b.      Paradigma Kelompok Kontrol
Tingkat minat belajar
 

 
Kelompok kontrol
 
                                         

E.     Populasi dan Sampel
1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian menurut Suharsimi (1998:115) adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sampel-sampel yang akan diambil dalam suatu penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I SMU Negeri 9 Yogyakarta.
3.      Sampel Penelitian
Sampel penelitian menurut Suharsimi (1998:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampel random dengan sistem undian dengan maksud agar setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Adapun tekniknya dengan mengundi gulungan kertas sejumlah kelas yang didalamnya tertulis nomor kelas, sehingga didapatkan satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol.

F.     Instrumen dan Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara atau jalan yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Metode pengumpulan data dalam penelitian menurut Suharsimi (1998:138) secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non test.
Dalam penelitian ini menggunakan angket dalam pengumpulan data. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Tujuan digunakan angket dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap minat belajar siswa baik sebelum dikenai treatmen maupun sesudah dikenai tretmen.
Menurut Ibnu Hadjar (1999:184-188) menggolongkan angket menjadi empat yaitu angket terbuka dan tertutup, skala, daftar cek, dan bentuk rangking. Sedangkan Suharsimi (1998:140-141) menggolongkan angket sebagai berikut:
    1. Berdasarkan cara menjawab dibedakan menjadi dua yaitu angket terbuka dan angket tertutup.
    2. Berdasarkan dari jawaban yang diberikan dibedakan menjadi dua yaitu angket langsung dan angket tidak langsung.
    3. Dipandang dari bentuknya dibedakan menjadi empat yaitu angket pilihan ganda, isian, check list, dan rating scale.
Berdasarkan macam-macam angket diatas, dalam penelitian ini menggunakan angket tertutup dengan jawaban pilihan ganda.
Adapun kelebihan angket menurut Suharsimi (1998:141) adalah sebagai berikut:
1.      Tidak memerlukan hadirnya peneliti
2.      dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden
3.      dapat dijawab oleh responden menurut kecepatan masing-masing, dan menurut waktu senggang responden.
4.      dapat dibuat anonim sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab
5.      dapat dibuat terstandar sehingga semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama.

Selain memiliki kelebihan Suharsimi (1998:142) juga mengemukakan kelemahan angket sebagai berikut:
1.      responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak dijawab, adahal sukar diulang kembali kepadanya
2.      seringkali sukar dicari validitanya
3.      walaupun dibuat anonim, kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur.
4.      seringkali tidak kembali
5.      waktu pengembaliannya tidak bersama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat.

Adapun tujuan penggunaan angket dalam penelitian ini adalah  untuk mengetahui minat belajar siswa baik sebelum dikenai perlakuan ataupun sesudah dikenai perlakuan. Kisi-kisi angket minat belajar adalah sebagai berikut:

Variable
Indicator
Jumlah Item
a. Perhatian
a.       Mempunyai perhatian untuk tahu terhadap bahan pelajaran
b.       Mempunyai perhatian untuk memahami materi pelajaran
c.       Mempunyai perhatian untuk menyelasaikan soal-soal pelajaran.
5

5

5
b. Ketertarikan
a.       Ada ketertarikan untuk tahu terhadap bahan pelajaran
b.      Ada ketertarikan untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran.
c.       Ada ketertarikan untuk memahami bahan pelajaran
5

5

5
c. Rasa Senang
a.       Mengetahui bahan belajar dengan rasa senang
b.      Memahami bahan belajar dengan rasa senang
c.       Mampu menyelesaikan soal-soal dengan rasa senang.
5
5
5


G. Validitas dan Reliabilitas

Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliable. Menurut Suharsimi (1998:160) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi sedangkan instrumen yang kurang valid berarti memilili validitas rendah. Dalam penelitian ini untuk mengetahui validitas instrumen dengan menggunakanrumus korelasi Product Moment Pearson sebagai berikut:
dengan pengertian
x          : X- X
y          : Y – Y
X         : skor rata-rata dari X
Y         : skor rata-rata dari Y
 Sedangkan di bagian lain Suharsimi (1998:170-171) menerangkan reliabilitas adalah instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen itu sudah baik. Instrumen yang reliable berarti instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bias dipercaya. Dalam penelitian ini untuk mengukur reliabilitas instrumen digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut:

dengan keterangan:
r11           : reliabilitas  instrumen
r1/21/2    :  rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumen

  1. Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan analisis statistuk parametik yaitu suatu metode yang dibutuhkan asumsi tentang distribusi populasi..

laporan hasil wawancara bimbingan konseling

LAPORAN HASIL WAWANCARA TENTANG BIMBINGAN KONSELING


LAPORAN HASIL WAWANCARA TENTANG
BIMBINGAN KONSELING
A. Tujuan Wawancara
Tujuan wawancara yang dilakukan di SMP N 1 ............................... ini adalah untuk mengetahui:
1.      struktur pengelolaan BK di SMP ini,
2.      fungsi dari BK sudah terpenuhi atau belum,
3.      jenis masalah yang dihadapi siswa da pemecahannya, dan
4.      upaya guru BK agar tidak menjadi Bimbingan Konseling ini ditakuti siswa.
B. Tempat dan Waktu Wawancara
SMP Negeri 1  pucangan  yang beralamatkan di Jalan ...................................................................... Sekolah ini adalah rintisan sekolah standar nasional (RSSN) yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Umumnya seperti sekolah lainnya, sekolah ini memiliki ruang Bimbingan Penyuluhan yang terletak di dekat pintu masuk utama sekolah. Dalam ruangan tersebut terdapat beberapa meja dan kursi, buku-buku, dan data-data yang terpasang di dinding ruang BP.
Metode yang digunakan adalah metode wawancara untuk menggali informasi kepada narasumber yang terkait dengan Bimbingan dan Konseling pada SMP tersebut.
Wawancara dilakukan di SMP N 1 ................., pada Sabtu, 15 Mei 2010 dengan narasumber guru bimbingan dan konseling, ..............................., S. Pd.

C. Hasil Wawancara
Untuk menggambarkan secara jelas Bimbingan dan Konseling yang ada di SMP Negeri 1 ..................ini, diperlukan beberapa data yang dapat diungkapkan dalam hasil wawancara berikut:
  • Apakah Bimbingan dan Konseling sudah memenuhi fungsi sebagaimana mestinya yang ada pada SMP ini?
Jawab:
Bimbingan dan Konseling di SMP ini sudah memenuhi fungsi sebagaimana mestinya, karena BK di SMP ini sudah menerapkan kelima fungsi BK. Yaitu, fungsi pemahaman yang mencoba mendekati siswa dan mengidentifikasi permasalahan pada siswa. Fungsi pencegahan, dengan memberikan jam khusus untuk mata pelajaran bimbingan dan konseling, juga memberikan pengertian pada guru mata pelajaran untuk memahami kondisi siswa. Fungsi pengentasan, dengan memecahkan masalah yang dialami siswa. Fungsi pemeliharaan, memberikan perhatian kpada semua siswa secara merata. Serta fungsi pengembangan, dengan menanamkan nilai-nilai yang baik kepada siswa, dan mengapresiasi siswa yang tidak melanggar aturan sekolah.
Guru BK juga menentukan nilai kepribadian siswa yang berada di rapor. Selain nilai akademik, nilai kepribadian siswa sangat perpengaruh pada kenaikan kelas pada siswa. Sehingga guru BK dan wali kelas berpengaruh penting dalam kenaikan siswa yang ada pada SMP Negeri 1 ................... ini.
  • Apakah terdapat jam pelajaran khusus yang digunakan untuk penyuluhan Bimbingan dan Konseling ini?
Jawab:
Tiap-tiap tingkatan kelas memiliki waktu satu jam pelajaran (40 menit) yang dikhususkan untuk mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. Hal ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada siswa. Memberikan pengertian kepada siswa peran BK yang seharusnya. Memupuk Hal tersebut dibuktikan dengan adanya LKS (Lembar Kerja Sosial) Bimbingan dan Konseling yang berisikan materi dan lembar kerja. Materi tersebut berupa bimbingan pribadi untuk pengenalan diri sendiri dan bimbingan sosial berupa interaksi dengan teman, guru, masyarakat, serta lingkungan sekitar siswa.
  • Jenis masalah apa yang dihadapi siswa, dan bagaimana cara mengatasinya?
Jawab:
Jenis masalah yang sering dihadapi siswa adalah kenakalan yang dapat mengakibatkan banyak pelanggaran. Seperti, membolos, terlambat, melakukan pelanggaran pada aturan sekolah, dan sebagainya. Cara mengatasinya adalah dengan memberikan penyuluhan dan perhatian kepada siswa tersebut. Karena sejatinya, anak tersebut berbuat nakal karena ingin diperhatikan orang lain. Di usianya yang masih labil, mereka mencoba untuk mengungkap jati diri dan identitas dirinya kepada orang lain. Untuk itu, perlu adanya perhatian lebih untuk siswa yang seperti itu.
  • Apakah faktor dari permasalahan tersebut?
Jawab:
Faktor dari munculnya kenakalan tersebut disebabkan karena orang tua dari anak tersebut merantau ke luar kota. Hal itu menyebabkan pergaulan anak tidak diawasi di rumah. Sehingga kebiasaan-kebiasaan buruk akan dibawa sampai pada sekolah. Cara menanggulanginnya adalah dengan melakukan home visit (kunjungan ke rumah) untuk meninjau keadaan rumah. Seperti mencari tahu tentang kebiasaan anak di rumah, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan keluarga, social ekonomi keluarga, dan sebagainya.
  • Adakah data kesiswaan yang memiliki pelanggaran, kelulusan, data keluar masuk siswa pada Bimbingan dan Konseling ini?
Jawab:
Ada data tentang hasil pelanggaran, kelulusan, data input siswa. Akan tetapi tidak sedang dibawa oleh koordintor BK, sehingga tidak dapat ditunjukkan. Sebagian data juga terdapat pada data di dinding kantor BK.
  • Upaya apa yang dilakukan BK agar tidak ditakuti siswa?
Jawab:
Ruangan BK atau guru BK msih sangat ditakuti siswa. Karena cap sebagai polisi sekolah masih melekat pada BK. Hal tersebut berakibat kepada kurangnya minat siswa secara suka rel mendatangi BK untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi siswa. Untuk itu perlu adanya upaya agar siswa tidak takut untuk mengadukan masalahnya pada BK. Upaya yang dilakukan oleh BK agar tidak ditakuti oleh siswa adalah dengan memberikan pengertian, seperti memanfaatkan waktu pada mata pelajaran BK. Memberikan simpatik kepada siswa, komunikasi, berinteraksi dengan siswa, dan menyapanya disetiap kesempatan.
Selain hal tersebut, agar BK tidak mendapatkan lagi predikat polisi sekolah, guru mata pelajaran hendaknya memahami kondisi siswa yang bermasalah. Ada beberapa upaya yang dilakukan pihak pendidikan untuk memberikan penyuluhan kepada guru mata pelajaran. Seperti program minor Bimbingan dan Konsling yang bertujuan agar guru mata pelajaran mampu mengatasi permasalahan siswa. Sehingga, guru mata pelajaran tidak langsung menyerahkan anak bermasalah tersebut kepada guru BK. Ini akan membuat dampak pemudaran image BK sebagai polisi sekolah.
  • Bagaimanakah stuktur bimbingan dan konseling yang ada di SMP Negeri 1
Jawab:
STRUKTUR BP SMP NEGERI 1


D. Saran
Dari hasil wawancara di atas dapat penyusun menyarankan bahwa,
1.      bimbingan konseling bagi siswa sangat diperlukan, untuk itu selain guru BK, guru mata pelajaran juga mampu melaksanakan dan memahami pentingnya kegiatan bimbingan dan konseling,
2.      peran guru BK juga tidak hanya sekedar memberikan penyuluhan, tetapi juga mendekati siswa untuk mengungkap masalah yang dihadapinya,
3.      BK tidak hanya dijadikan sebagai tempat pemecahan masalah, tetapi juga sebagai tempat pengembangan potensi yang dimiliki oleh siswa, dan
4.      penggiatan upaya untuk menjadikan BK bukan polisi sekolah diperlukan bagi perkembagan siswa.