Blogroll

SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf
SELAMAT DATANG DI BLOG BIMBINGAN KONSELING ONLINE SMK PLUS QURROTA AYUN - See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-tulisan-berjalan-marquee.html#sthash.UeskRGAb.dpuf

Selasa, 22 Februari 2011

Teori Belajar Psikologi Kognitif


I. Prinsip dasar psikologi kognitif

Psikologi kognitif

Psikologi kognitif adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau pikiran. Bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan ditransfermasikan sebagai pengetahuan. Psikologi kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi.

Tingkah laku seseorang didasarkan pada tindakan mengenal/ memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

Prinsip dasar psikologi kognitif

* Belajar aktif
* Belajar lewat interaksi sosial
* Belajar lewat pengalaman sendiri

Teori psikologi kognitif berkembang dengan ditandai lahirnya teori Gestalt (Mex Weitheimer) yang menyatakan bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.

Ada 2 hukum wajib dalam teori Gestalt:

- pragnaz (kejelasan)

- closure (totalitas)

Konsep yang penting dalam teori ini INSIGHT, yaitu: pengmatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan antara bagian-bagian di dalam suatu situasi masalah.

A. Teori Belajar Cognitive-Field dari Lewin

Bertolak pada teori Gestalt, Lewin mengembangkan teori belajar berdasarkan Life Space (dunia psikologis dari kehidupan individu). Masing – masing individu berada di dalam medan kekuatan psikologis, medan itu dinamakan Life Space yang terdiri dari dua unsure yaitu kepribadian dan psikologi social.

Ia menyatakan bahwa tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi/ restruktur (dari isi jiwa). Tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan baik dari dalam (tujuan, kebutuhan, tekanan batin, dan sebagainya) maupun dari luar (tantangan, permasalahan).

B. Cognitive Development (Jean Piaget )

Dalam teorinya, ia memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Ia memakai istilah scheme: pola tingkah laku yang dapat diulang. Yang berhubungan dengan :

* Reflex pembawaan (bernapas, makan, minum)

* Scheme mental (pola tingkah laku yang susah diamati, dan yang dapat diamati)

Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tingkat yaitu :

(1) sensory motor;

(2) pre operational;

(3) concrete operational dan

(4) formal operational

Perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap menurut Piaget yaitu:

a. Kematangan

b. Pengalaman fisik/ lingkungan

c. Transmisi social

d. Equilibrium/ self regulation

Menurut Piaget intelegensi itu terdiri dari tiga aspek, yaitu:

-struktur (scheme) : pola tingkah laku yang dapat diulang

-isi (content) :pola tingkah laku yang spesifik (saat menghadapi masalah)

-fungsi (function) :berhunbungan dengan cara seseorang untuk mencapai kemajuan intelektual.

C. Pembelajaran Menurut JA Brunner (Discovery Learning)

Teori Brunner menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas. Maksud dari Discovery Learning yaitu siswa mengorganisasikan metode penyajian bahwa dengan cara dimana anak dapat mempelajari bahan itu, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

The act of discovery dari Burner:

1. Adanya suatu kenaikan di dalam potensi intelektual
2. Ganjaran intrinsic lebih ditekankan daripada ekstrinsik
3. Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning
4. Murid lebih senang mengingat-ingat informasi

Selain ketiga tokoh tersebut Ausubel juga berpengaruh dalam psikologi kognitif. Dia mengungkapkan teori ekspository teaching, yaitu dapat diorganisasikan atau disajikan secara baik agar dapat menghasilkan pengertian dan resensi yang baik pula sama dengan discovery learning.

D. Implikasi teori perkembangan kognitif

Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi
dengan teman-temanya.

Pengaplikasian teori kognitif dalam belajar bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat belajar dari apa yang telah diketahui saja.dengan adanya area baru, siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasikan.

II. Peran pendidik dan peserta didik

Peran pendidik dan peserta didik

- Guru sebagai demonstrator
- Guru sebagai mediator dan fasilitator
- Guru sebagai evaluator
Guru secara umum berperan sebagai:

Pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana,suvervisor,motivator,penanya,evaluator dan konselor.

Selain peran yang telah disebutkan di atas, hal yang perlu dan penting dimiliki oleh pendidik yaitu pendidik harus mengetahui psikologis mengenai peserta didik. Suryabrata : 2004)

Peran peserta didik

belajar mandiri memposisikan pebelajar sebagai subyek, pemegang kendali, pengambil keputusan atau pengambil inisiatif atas belajarnya sendiri.


III. Pendekatan dan Metode Pembelajaran

A. Pendekatan Belajar

Banyak pendekatan belajar yang dapat digunakan oleh para guru kepada para siswanya unttuk mempelajari bidang studi atau materi pelajaran yang sedang mereka tekuni, dari yang paling klasik sampai yang paling modern. Di antaranya:

1). Pendekatan Hukum Jost

Menurut Reber (1988), salah satu asumsi penting yang mendasari Hukum Jost (Jost’s Law) adalah siswa yang lebih sering mempraktikkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni. Selanjutnya, berdasarkan asumsi Hukum Jost itu maka belajar dengan kiat 5 x 3 adalah lebih baik daripada 3 x 5 walaupun hasil perkalian kedua kiat tersebut sama.

2). Pendekatan Ballard & Clanchy

Menurut Ballard & Clanchy (1990), pedekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude to knowledge). Ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu: 1) sikap melestarikan apa yang sudah ada (conserving); dan 2) sikap memperluas (extending).

3). Pendekatan Biggs

Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan belajar siswa dapat dikelempokkan ke dalam tiga prototype (bentuk dasar).

1) Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriah)
2) Pedekatan deep (mendalam)
3) Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi).


B. Metode Belajar

Metode secara etimologi berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa diguanakan untuk menyelidiki fenomena atau gejala-gejala kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen, dan sebagainya.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan metode belajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran.

Ragam dan jumlah metode belajar sesungguhnya banyak sekali dan hampir tidak dapat dihitung dengan jari, mulai dari yang paling tradisional sampai yang paling modern.

Berikut ini penyusun sajikan sebuah metode belajar untuk mempelajari teks (wacana), khususnya yang terdapat dalam buku, artikel ilmiah, dan laporan penelitian. Kiat yang secara spesifik dirancang untuk memahami isi teks itu disebut SQ3R yang dikembangkan oleh Francis P. Robinson di Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat. Metode ini bersifat praktis dan dapat diaplikaikan dalam berbagai pendekatan belajar.

SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi:

1. Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti atau mengidentifikasi seluruh teks. Dalam melakukan aktivitas survey guru perlu membantu mendorong siswa untuk memeriksa atau meneliti secaa singkat seluruh struktur teks. Tujuannyaaga siswa mengetahui panjangnya teks, judul bagian (heading) dan judul subbagian (sub-heading), istilah dan kata kunci, dan sebagainya.

2. Question, ialah menyususn daftar pertanyaan yang relevan dengan teks. Dalam hal ini guru diharapkan berperan untuk memberi petunjuk atau contoh kepada para siswa untuk menyusu pertanyaan-pertanyaan yang jelas, singkat dan relevan dengan bagian-bagian teks yang telah ditandai pada langkah pertama.

3. Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawabatas petanyaan-pertanyaan yang telah tersusun. Dalam hal ini membaca aktif juga berarti membaca yang difokuskan pada paragraph-paragraf yang diperkirakan mengandung jawaban-jawaban yang diperkirakan relevan dengan pertanyaan-pertanyaan tadi.

4. Recite, menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan. Dalam kegiatan ini guru menyuruh kepada para siswanya untuk menyebutkan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang telah tersusun tanpa membuka catatan dari jawaban tersebut.

5. Review, meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langka kedua dan ketiga.


IV. Materi dan Sumber Belajar

A. Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran (instructional materials) adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Materi Pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran

Materi yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar .



Jenis-Jenis Materi Pembelajaran

Materi fakta adalah segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya

Contoh :

Mata Pelajaran Sejarah : Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan pemerintahan Indonesia.

Materi konsep adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakekat, inti /isi dan sebagainya.

Contoh :

Mata Pelajaran Biologi : Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ., dsb.

Materi prinsip adalah berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting , meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat.

Contoh :

Mata Pelajaran Fisika : Hukum Newton tentang gerak , Hukum 1 Newton , Hukum 2 Newton , Hukum 3 Newton , Gesekan statis dan Gesekan kinetis, dsb.

Materi Prosedur meliputi langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem.

Contoh :

Mata Pelajaran TIK : Langkah-langkah Akses Internet, trik dan strategi penggunaan Web Browser dan Search Engine,

Materi Sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek afektif, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb.

Contoh :

Mata Pelajaran Geografi : Pemanfaatan sumberdaya alam berdasarkan prinsip ekoefisiensi, Pemanfaatan sumberdaya alam dan pembangunan berkelanjutan, dsb.

Mata Pelajaran Sosiologi : Interaksi sosial dan dinamika sosial, Sosialisasi dan pembentukan kepribadian.

B. Sumber Belajar

AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan dengan dengan cara yaitu dilihat dari keberadaan sumber belajar yang direncanakan dan dimanfaatkan.

Sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat permainan untuk memberikan informasi maupun berbagai keterampilan kepada murid maupun guru (Sudono, 2000:7).

Hamalik (1994:195), menyatakan bahwa sumber belajar adalah semua sumber yang dapat dipakai oleh siswa, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan siswa lainnya, untuk memudahkan belajar.

Mudhofir (1992:13) menyatakan bahwa yang termasuk sumber belajar adalah berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan manusia, baik dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku, brosur, pamflet, majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film, filmstrip, kaset, videocassette, dan lain-lain).

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan guru maupun siswa dalam mempelajari materi pelajaran, sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran tersebut.

A. Macam-macam Sumber Belajar

AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan menjadi dua, yakni sumber belajar yang sengaja direncanakan dan sumber belajar yang dimanfaatkan. Penjelasan kedua hal tersebut sebagai berikut:

1) Sumber belajar yang sengaja direncanakan (by design) yaitu semua sumber belajar yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.

2) Sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasi, dan digunakan untuk keperluan belajar (Satgas AECT, 1986:9).

Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa sumber belajar merupakan salah satu komponen sistem instruksional yang dapat berupa: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (lingkungan). Sumber belajar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Pesan, adalah pelajaran/informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, arti, dan data.

2) Orang, mengandung pengertian manusia yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Tidak termasuk mereka yang menjalankan funsgi pengembangan dan pengelolaan sumber belajar.

3) 3. Bahan, merupakan sesuatu (bisa pula disebut program atau software) yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri.

4) Alat, adalah sesuatu (biasa pula disebut hardware) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan di dalam bahan.

5) Teknik, berhubungan dengan prosedur rutin atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan.

6) Lingkungan, merupakan situasi sekitar di mana pesan diterima (Mudhoffir, 1992:1-2).
Semiawan (1992:96) menyatakan bahwa sebenarnya kita sering melupakan sumber belajar mengajar yang terdapat di lingkungan kita, baik di sekitar sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Betapapun kecil atau terpencil, suatu sekolah, sekurang-kurangnya mempunyai empat jenis sumber belajar yang sangat kaya dan bermanfaat, yaitu:

1) Masyarakat desa atau kota di sekeliling sekolah.
2) Lingkungan fisik di sekitar sekolah.
3) Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbuang yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, namun kalau kita olah dapat bermanfaat sebagai sumber dan alat bantu belajar mengajar.
4) Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di masyarakat cukup menarik perhatian siswa. Ada peristiwa yang mungkin tidak dapat dipastikan akan terulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa ada catatan pada buku atau alam pikiran siswa.

Secara umum, sumber belajar dapat berupa:

1) Barang Cetak, seperti kurikulum, buku pelajaran, Koran, majalah, dan lain-lain.
2) Tempat, seperti: sekolah, perpustakaan, museum, dan lain-lain
3) Nara sumber/orang, seperti: guru, tokoh masyarakat, instruktur, dan lain-lain.

Jenis-jenis sumber belajar tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam proses belajar-mengajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian hasil belajar peserta didik pada dasarnya merupakan interaksi antara komponen system instruksional dengan peserta-peserta didik.

B. Tujuan dan Fungsi Sumber Belajar

Penggunaan sumber belajar bertujuan untuk:

1) Menambah wawasan pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan guru,
2) Mencegah verbalistis bagi siswa,
3) Mengajak siswa ke dunia nyata,
4) Mengembangkan proses belajar-mengajar yang menarik, dan
5) Mengembangkan berpikir divergent pada siswa (Semiawan, 1992:97)

Pemanfaatan sumber belajar sudah barang tentu akan menambah wawasan pengetahuan siswa. Melalui sumber belajar, pemahaman siswa mengenai suatu materi pelajaran akan bertambah. Hal tersebut sekaligus akan mencegah verbalistis bagi siswa. Dengan pemanfaatan sumber belajar maka siswa tidak hanya mengetahui materi pelajaran dalam bentuk kata-kata saja, namun secara komprehensif akan mengetahui substansi dari materi yang dipelajari.

Sumber belajar juga bertujuan mengajak siswa ke dunia nyata. Dalam pengertian, siswa tidak hanya berada dalam bayangan-bayangan suatu materi akan tetapi melalui sumber belajar, siswa langsung dihadapkan ke dunia nyata, yaitu suatu situasi yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran.

Pemanfaatan sumber belajar juga bertujuan mengembangkan proses belajar-mengajar yang menarik. Dalam pengertian, melalui pemanfaatan sumber belajar sudah barang tentu proses belajar-mengajar lebih aktif dan interaktif. Hal menarik yang dapat dijumpai ketika guru memanfaatkan sumber belajar adalah adanya interaksi banyak arah, yakni antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan guru.

Berpikir divergent merupakan suatu aktivitas berpikir di mana siswa mampu memberikan alternatif jawaban dari suatu permasahalan yang dibahas. Melalui pemanfaatan sumber belajar diharapkan siswa mampu berpikir divergent.

Adapun fungsi sumber belajar sebagai:

1) sarana mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan,
2) mengeratkan hubungan antara siswa dengan lingkungan,
3) mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa,
4) membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna (Semiawan,1992:100).

Keterampilan memproses perolehan mengacu pada sesuatu yang dapat diperoleh ketika guru memanfaatkan sumber belajar. Oleh karena itu, fungsi sumber belajar sebagai sarana mengembangkan keterampilan memproseskan perolehan berhubungan dengan aktivitas guru dalam memanfaatkan sumber belajar. Dalam pengertian, ketika guru memanfaatkan sumber belajar sudah barang tentu harus ada sesuatu yang dapat diperoleh oleh siswa.

Fungsi sumber belajar lainnya adalah mengeratkan hubungan siswa dengan lingkungan. Hal tersebut berhubungan dengan pemanfaatan sumber belajar yang dilakukan guru. Semakin guru memanfaatkan sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekitar, maka siswa semakin dekat dengan lingkungannya.

Pengalaman dan pengetahuan siswa akan materi pelajaran yang dipelajari merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, keberadaan sumber belajar berfungsi untuk mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa. Melalui pemanfaatan sumber belajar, maka pengalaman dan pengetahuan siswa akan lebih berkembang.

Fungsi sumber belajar yang membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna, berhubungan dengan aktivitas guru dalam memanfatakan sumber belajar. Melalui pemanfaatan sumber belajar yang tepat, maka guru dapat membuat proses belajar-mengajar lebih bermakna. Artinya, guru mampu mengelola proses belajar-mengajar yang berpusat pada siswa, bukan proses belajar-mengajar yang berpusat pada guru.


Sumber Buku Bacaan :

H, Djali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

M, Dalyono. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Muhibin, Syah. 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Konseling “ Rational Emotive”

Konseling “ Rational Emotive”
Tokoh teori ini adalah Albert Ellis
Konsep pokok
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional. Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi buka dua proses yang terpisah, menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banya perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang mengatakn kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang orang yang seperti itu menurut Ellis adalh karena
• Terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas
• Orang cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi
• Orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
Ellis (Shertzer & Stone, 1980, 175-176) mengemukakan ada 12 pikiran tak rasional ( ide irasional) yang dapat menimbulkan perilaku neurosis atau psikosis.
• Bahwa manusia yang hidup dalam masyarakat mau tidak mau dapat dicintai ataupun ditolak oleh orang lain disekitarnya setiap saat.
• Bahwa seseorang yang hidup dalam masyarakat harus mempersiapkan diri secara kompeten, adekuat agar ia dapat mencapai kehidupan yang layak dan berguna masyarakat.
• Bahwa banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik, merusak, jaht ataupun kejam dan oleh karena itu patut disalahkan, dihukum setimpal dengan dosanya.
• Bahwa kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai kemungkinan malapetaka, benacana yang dahsyat, mengerikan, menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya.
• Bahwa ketidak senangan atau penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk mengontrol perasan-perasaanya
• Bila ada sesuatu hal atau peristiwa yang berbahaya atau menakutkan, amaka individu harus berusaha keras untuk menghadapi dan mengatasi depresi atau yang bertentangan.
• Bahwa lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dan tanggung jawab diri daripada berusaha untuk menghadapi dan menanganinya hanya untuk menghargai bentuk disiplin diri
• Bahwa sisa-sisa pengalaman masa lalu semuanya sangat penting karena hal itu berpengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan perilaku individu yang ada sekarang.
• Bahwa individu akakn lebih baik untuk menghindarkan diri daripada mengerjakaan sesuatu, dan bahwa sesuatu situasi atau peristiwa akan dipandang sebagai hal yang membahayakan jika tidak secepatnya ditemukan pemecahan yang baik terhadap kehidupan yang bertentangan
• Bahwa individu akan mencapai kebahagaian hidup dengan menyenangkan diri sendiri
• Bahwa individu akan mencapai suatu derajat yang tinggi dalam hidupnya untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan, atau ememrlukan keuakatan supranatural untuk mencapainya.
• Bahwa inividu secara umum mempunyai nilai diri sebagai manusia dan penerimaan diri untuk tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu.
Proses Konseling
Tugas konselor meurut Ellis ialah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukan bahwa: (a).kesulitan disebabkan oleh persepsi yang tergangu dan pikiran pikiran yang tidak logis, dan (b). Usaha memperbaikinnya adalah harus kembali kepada sebeb-sebab permulaan. Tujuan utama terapi rasional-emotif adalah menunjukan kepda klien bahwa verbalisasi diri mereka merupakan sumber ganguan emosionalnnya.
Tujuan utama konseling rasional-emotif
• Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan klien yang irasional dan logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkat self actualization seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
• Menghilangkan ganguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri
Secara lebih khusus Ellis ( Corey, 19867; 215) menyebutkan bahwa denga terapi rasional-emotif akan tercapai pribadi yang ditandai dengan:
• Minat kepda diri sendiri
• Minat sosial
• Pengarahan diri
• Toleransi terhadap pihak lain
• Fleksibilitas
• Menerima ketidakpastian
• Komitmen terhadap sesuatu diluar dirinya
• Berpikir ilmiah
• Penerimaan diri
• Berani mengambil resiko
• Menerima kenyataan
Albert Ellis (1973), memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seorang praktisi rasional-emotif yaitu:
• Mengajak, mendorong klien untuk meninggalkan ide-ude irasional yang mendasari ganguan emosional dan perilaku
• Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional
• Menunjukan kepada klien azas logis dalam berpikirnya
• Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakina-keyakinan irasional klien.
• Menunjukan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah “ in operative” dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional
• Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien
• Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan kemabali atau diganti kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik melatarbelakangi kehidupanya
• Mengajar klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, obyektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya akan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

Teknik-teknik terapi
Teknik-teknik emotif (afektif)
• Assetive Training, yaitu tekknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkanya
• Sosiodrama, digunakan untuk mengekpresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suasana yang didramatisasikan secara sedemikian rupa.
• Self modeling, digunakan untuk meminta klien agar “berjanji” atau berkomitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
• Imitasi, digunakan diman klien menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya yang negatif.
Teknik-teknik behavioristik
• Reinforcement (penguatan), digunakan untuk menodrong klien kearah prilaku yang lebih rasional dan logis dengan cara memberikan pujian atau hadiah ataupun hukuman.
• Social modeling, digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien.
• Live models, digunakan untuk menggambarkan perilaku-perlaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk kecakapan sosial, interaksi sosial dengan memecahkan masalah-masalah.
Teknik-teknik Kognitif
• Home Work Assigments, dalam teknik ini klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan.
• Assertive, digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui cara, misal role playing atau bermain peran, dan social modeling tau meneri model-model sosial.

Sumber dan rujukan bacaan:
Untuk lebih lanjut dan lengkapnya tentang Teori-Teori Konseling silahkan baca dari buku :
Teori-Teori Konseling. Prof. Dr. H. Mohamad Surya.

Konseling “ Trait & Factor”


Konseling “ Trait & Factor”
Toko utama teori sifat dan faktor adalah Walter bingham, Jhon Darley, Donald G. Paterson, dan E. G. Williamson. Teori sifat dan faktor sering pula disebut sebagai konseling direktif atau konseling yang berpusat pada konselor.
Konsep utama
Kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainya seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Hal yang mendasar bagi konseling sifat dan faktor adalah asumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Maksud konseling menurut Williamson adalah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia, serta tugas konseling sifat dan faktor adalah membantu individu dalalm memeperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir (Shertzer & Stone, 1980, 171).

Proses konseling
Peranan konselor menurut teori ini adalah memberitahukan konseli tentang berbagai kemampuanya yang diperoleh konselor melalui testing. Berdasarkan testing pula konselor mengetahui kelemahan dan kekuatan kepribadian konseli. Pendekatan teori ini seri deisebut kognitif rasional karena peranan konselor dalam konseling ialah memberitahukan, memberi informasi, dan mengarahkan konseli. Williamson “ hubungan konseling merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka, kemudian konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor harus mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya”.
Proses konseling dibagi 5 tahap :

Analisis, merupakan tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan data dan informasi klien atau konseli.

Sintetis, merupakan langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukan bakat klien, kelemahan serta kekuatanya, dan kemampuan penyesuaian diri.

Diagnosis, sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh kepada proses penyesuaian diri. Diagnosis terdiri dari 3 langkah penting:
 Identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif, misalnya dengan menggunakan kategori Bordin atau Pepinsky atau kategori lainya.
Kategori diagnostik Bordin
• Dependence atau ketergantungan
• Lack of information atau kurangnya informasi
• Self-conflict
• Choice-anxiety atau kecemasan dalam memnuat pilihan
Kategori Pepinsky
• Lack of assurance atau kurangnya dukungan
• Lack of information atau kurangnya informasi
• Lack of Skill atau kurangnya keterampilan
• Dependence atau ketergantungan
• Self-conflict
 Menentuka sebab-sebab, yang mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dpat menerangkan sebab-sebab gejala.
 Prognosis, misal diagnosisnya kurang cerdas, prognosisnua menjadi kurang cerdas untuk pengerjaan sekolah yang sulit, sehingga mungkin sekali gagal kalu ingin belajar menjadi dokter. dengan demikian konselor bertanggung jawab dan membantu klien untuk mencapai tingkat pengambilan tanggung jawab untuk dirinya sendiri, yang berarti ia mampu dan mengerti secara logis, tetapi secara emosional belum mau menerima.

Konseling, merupakan hubungan membantu konseli untuk menemukan simbur diri sendiri maupun sumber diluar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuanya. Ada 5 jenis sifat konseling:
• Belajar terpimpin menuju pengertian diri
• Mendidik kembali atau mengajar sesuai dengan kebutuhan individu dalam mencapai tujuan kepribadianya dan penyesuaian hidupnya.
• Bantuan pribadi konselor supaya konseli mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
• Mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif
• Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran

Tindak lanjut, mencakup bantuan kepada klien dalam mengahadapi masalah baru dengan mengingatkanya kepada maslah sumbernya sehingga menjamin keberhasila konseling.


Teknik konseling
“ teknik konseling harus disesuaikan dengan individualitas klien, dan kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa setiap masalah menuntut fleksibelitas dan keragaman konseling” ( Williamson, dalam Petterson, 1996, hal 36)
Teknik-teknik yang sering digunakan dalam proses konseling :
 Penggunaan hubungan intim (rapport). Konselor menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam klien.
 Memperbaiki pemahaman diri. Koseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatanya dalam upaya mengatsi kelemahanya
 Pemberian nasihat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai bertolak dari pilihan, tujuan, pandangan atau sikap konselor dan kemudian menunjukan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis.
3 metode pemberian nasehat yang adapat digunakan konselor
o Nasihat langsung ( direct advising), dimana konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya.
o Metode persuasif, dengan menunjukan pilihan yang pasti secara jelas.
o Metode penjelasan, yang merupakan metode yang paling dikehendaki dan memuaskan.
o Melaksanakan renacana, konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan serta implementasinya.
 Menunjukan kepada petugas lain atau referal, jika konselor merasa tidak mampu menangani masalah konseli, maka ia harus merujuk konseli kepada pihak lain yang dopandang lebih kompeten untuk membantu konseli.


Sumber dan rujukan bacaan:
Teori-Teori Konseling. Prof. Dr. H. Mohamad Surya

Teori Konseling Behaviroral


Konseling Behaviroral
Tokoh dari konseling ini antara lain Jhon D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosford, Bandura, dan banyak lainya...
Konsep pokok
Perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dang mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penatataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memcahkan masalahnya.
Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 188) ciri konseling behavioral adalah:
• Kebanyakan perilaku manusia dipelajari dan karena itu dapat diubah.
• Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkunagn individual dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan, prosedur-prosedur konseling berusaha membwa perubahan-perubahan yang relevan dala perialku klien dengan mengubah lingkungan
• Prinsip-prinsip belajar spesial seperti reinforcement dan sosial modeling, dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
• Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilakiu khusus di luar wawancara prosedur-prosedur konseling.
• Prosedur-prosedur konsesling tidak statis atau ditentukan sebelumanya tatapi dapat secara khusus didisain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.
Proses konseling
Menurut krumboltz dan Thoresen (Shertzer & stone, 1980, 190) konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang belajr memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.
Kriteria Tujuan konseling menurut Krumboltz adalah:
• Tujuan harus diinginkan klien
• Konselor harus berkeinginan untuk membantu klien menacapai tujuan
• Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dinilai pencapainya oleh klien
Tujuan konseling dikategorikan:
• Memperbaiki perilaki salah sesuai
• Belajar tentang proses pembuatan keputusan
• Pencegahan timbulnya masalah-masalah
Menurut Corey (1986, 178) fungsi tujuan konseling
• Sebagai refleksi masalah klien
• Sebagai dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling
• Sbagai kerangka untuk menilai hasil konseling
Metode konseling
Krumboltz mengkategorikan:
• Pendekatan Operant Learning hal yang penting adalah penguatan yang dapat menghasilkan perilaku klien uang dikehendaki
• Untative larning atau social modeling diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dijadikan model oleh klien
• Cognitive learning pembelajaran yang dapt beruba pengajaran secara verbal
• Emotional learning, pembelajraan emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan.
Teknik
• Desentisasi sistematis
• Metode latihan rileks
• Penguatan
• Pembuatan model restrukturing kognitif
• Penghentian pikiran
• Latihan ketegansan
• Latihan keterampilan sosial
• Mamajemen diri
• Pengualangan perilaku
• Terapi multimodal
• Tugas rumah


Sumber dan rujukan bacaan:
Untuk lebih lanjut dan lengkapnya tentang Teori-Teori Konseling silahkan baca dari buku :
Teori-Teori Konseling. Prof. Dr. H. Mohamad Surya.

Teori Konseling Psikoanalisa

Teori Konseling Psikoanalisa
Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud.
Konsep pokok
Pada mulanya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalam terhadap dorongan-dorongan tersebut. Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial, dan destruktif terhadap dirinya sendiri ddan orang lain. Menurut Freud teori kepribadian menyangkut 3 hal
1. Struktur kepribadian
Kepribadian terdiri dari 3 sistem
• Id adalah aspek biologis yang merupakan sistem kepribadian yang asli.
• Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.
• Super ego adalah aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisiona serta cita-cita masyarakt yang ada di dalam kepribadian individu.
2. Dinamika kepribadian
Terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu disitribusikan serta digunkan oleh id, ego, dan super ego.
3. Perkembangan kepribadian
Kepribadian individu menurutr Freud telah mulai terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur kepribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut.
Proses Konseling
Tujuan konseling adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontruksikan kepribadian.
Satu karakteristik konseling ini adalah bahwa terapi atau analisa bersikap anonim(tak dikenal) dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamanya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaanya kepada konselor. Konselor terutam berkenaan dengan membantu klien mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan berhubungan pribdi yang lebih efektif, dalam menghadapi kecemasan melaui cara-cara realistis. Pertamam-tama konselor harus membuat suatu hubungan kerjasama dengan klien dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi atau penolakan klien. Sementara klien berbicara, konselor mendengarkan dan memberikan penafsiran yang memadai fungsinya adalah pempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimapan dalam ketidaksadaran.
Teknin-Teknik Terapi
Asosiasi bebas
Teknik pokok dalam terapai psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkan pikiranya adari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadaranya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.
Metode ini adalah metoda pengungkapan pangalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu.
Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
Analisis mimpi
Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.
Analisis dan interpretasi resistensi
Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
Analisis dan interpretasi transferensi
Transferensi (pemin dahan).transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya ataupun siapapun.

Sumber dan rujukan bacaan:
Untuk lebih lanjut dan lengkapnya tentang Teori-Teori Konseling silahkan baca dari buku :
Teori-Teori Konseling. Prof. Dr. H. Mohamad Surya. Penerbit Pustaka Bani Quraisy. Bandung.

Konseling, merupakan

  1. Konseling, merupakan bantuan yang bersifat terapeutis yang diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli. Konseli dilakukan dengan wawancara langsung. konseling ditujukan kepada individu yang normal tetapi hanya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial bukan kejiwaan.
  2. Nasihat, merupakan salah satu teknik bimbingan yang dapat diberikan oleh konselor ataupun pembimbing yang berdasar masalah atau kesulitan konseli dan dan data yang berakaitan, nasihat diberikan bersifat alternatif yang penentuanya diserahkan pada klien namun klien harus mampu mempertanggungjawbkan keputusan yang diambilnya.
  3. Bimbingan Kelompok, merupakan bantuan terhadap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok, bimbingan ini dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan kehidupan sosial.
  4. Konseling Kelompok, merupakan bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan, penyembuhan dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhanya.
  5. Bimbingan Sambil Mengajar, individu akan lebih berhasil dalam belajar apabila guru/dosen menerapkan prinsip-prinsip dan memberikan bimbingan waktu mengajar, yang dilakukan oleh guru misal dengan menjelaskan tujuan dan manfaat pembelajaraan, cara belajar, metode belajar, motivasi untuk berprestasi, merencanakan masa depan, memberikan fasilitas belajar dan sebagainya. 
Untuk Sumber Lengkapnya:
Pengantar Bimbingan dan KOnseling
Dr.Juntika Nurihsan

Teori Konseling “ Trait & Factor”




Konseling “ Trait & Factor”
Toko utama teori sifat dan faktor adalah Walter bingham, Jhon Darley, Donald G. Paterson, dan E. G. Williamson. Teori sifat dan faktor sering pula disebut sebagai konseling direktif atau konseling yang berpusat pada konselor.
Konsep utama
Kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan lainya seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen. Hal yang mendasar bagi konseling sifat dan faktor adalah asumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Maksud konseling menurut Williamson adalah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia, serta tugas konseling sifat dan faktor adalah membantu individu dalalm memeperoleh kemajuan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan hidup dan karir (Shertzer & Stone, 1980, 171).

Proses konseling
Peranan konselor menurut teori ini adalah memberitahukan konseli tentang berbagai kemampuanya yang diperoleh konselor melalui testing. Berdasarkan testing pula konselor mengetahui kelemahan dan kekuatan kepribadian konseli. Pendekatan teori ini seri deisebut kognitif rasional karena peranan konselor dalam konseling ialah memberitahukan, memberi informasi, dan mengarahkan konseli. Williamson “ hubungan konseling merupakan hubungan yang sangat akrab, sangat bersifat pribadi dalam hubungan tatap muka, kemudian konselor bukan hanya membantu individu atas apa saja yang sesuai dengan potensinya, tetapi konselor harus mempengaruhi klien berkembang ke satu arah yang terbaik baginya”.
Proses konseling dibagi 5 tahap :

Analisis, merupakan tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan data dan informasi klien atau konseli.

Sintetis, merupakan langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukan bakat klien, kelemahan serta kekuatanya, dan kemampuan penyesuaian diri.

Diagnosis, sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh kepada proses penyesuaian diri. Diagnosis terdiri dari 3 langkah penting:
 Identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif, misalnya dengan menggunakan kategori Bordin atau Pepinsky atau kategori lainya.
Kategori diagnostik Bordin
• Dependence atau ketergantungan
• Lack of information atau kurangnya informasi
• Self-conflict
• Choice-anxiety atau kecemasan dalam memnuat pilihan
Kategori Pepinsky
• Lack of assurance atau kurangnya dukungan
• Lack of information atau kurangnya informasi
• Lack of Skill atau kurangnya keterampilan
• Dependence atau ketergantungan
• Self-conflict
 Menentuka sebab-sebab, yang mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dpat menerangkan sebab-sebab gejala.
 Prognosis, misal diagnosisnya kurang cerdas, prognosisnua menjadi kurang cerdas untuk pengerjaan sekolah yang sulit, sehingga mungkin sekali gagal kalu ingin belajar menjadi dokter. dengan demikian konselor bertanggung jawab dan membantu klien untuk mencapai tingkat pengambilan tanggung jawab untuk dirinya sendiri, yang berarti ia mampu dan mengerti secara logis, tetapi secara emosional belum mau menerima.

Konseling, merupakan hubungan membantu konseli untuk menemukan simbur diri sendiri maupun sumber diluar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuanya. Ada 5 jenis sifat konseling:
• Belajar terpimpin menuju pengertian diri
• Mendidik kembali atau mengajar sesuai dengan kebutuhan individu dalam mencapai tujuan kepribadianya dan penyesuaian hidupnya.
• Bantuan pribadi konselor supaya konseli mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
• Mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif
• Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran

Tindak lanjut, mencakup bantuan kepada klien dalam mengahadapi masalah baru dengan mengingatkanya kepada maslah sumbernya sehingga menjamin keberhasila konseling.


Teknik konseling
“ teknik konseling harus disesuaikan dengan individualitas klien, dan kita tidak dapat menghindari kenyataan bahwa setiap masalah menuntut fleksibelitas dan keragaman konseling” ( Williamson, dalam Petterson, 1996, hal 36)
Teknik-teknik yang sering digunakan dalam proses konseling :
 Penggunaan hubungan intim (rapport). Konselor menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam klien.
 Memperbaiki pemahaman diri. Koseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatanya dalam upaya mengatsi kelemahanya
 Pemberian nasihat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai bertolak dari pilihan, tujuan, pandangan atau sikap konselor dan kemudian menunjukan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis.
3 metode pemberian nasehat yang adapat digunakan konselor
o Nasihat langsung ( direct advising), dimana konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya.
o Metode persuasif, dengan menunjukan pilihan yang pasti secara jelas.
o Metode penjelasan, yang merupakan metode yang paling dikehendaki dan memuaskan.
o Melaksanakan renacana, konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan serta implementasinya.
 Menunjukan kepada petugas lain atau referal, jika konselor merasa tidak mampu menangani masalah konseli, maka ia harus merujuk konseli kepada pihak lain yang dopandang lebih kompeten untuk membantu konseli.


Sumber dan rujukan bacaan:
Teori-Teori Konseling. Prof. Dr. H. Mohamad Surya. Penerbit Pustaka Bani Quraisy. Bandung.

Senin, 21 Februari 2011

Guidance vs Counseling

Guidance vs Counseling
Psychology, the study of behavior and of mental processes, is a diverse field. It involves the process of understanding the reasons why people behave and think as they do and applies scientific methods in observing and gathering information, in order to come up with an applicable principle of behavior and motivation.
It is subjective and is applied according to the specific requirements of an individual. Among the many branches and applications of psychology are the fields of Guidance and Counseling.
Guidance and Counseling both involve helping an individual in making choices about the different things that might confront and confuse him. They are totally different fields though and to help distinguish between the two, here are some of the things that are used to describe them:
Counseling
Counseling is a psychological specialty that deals with research and applied work in supervision, training, career development, prevention, and health. It focuses on a person’s strengths, assets, environmental interactions, educational background, career development and personality.
Counseling started as a result of WWII. Since then, it has been used by individuals, institutions, families, rehabilitation agencies and other organizations. It utilizes psychological methods in the collection of case history data through personal interview, testing and aptitude.
It helps clients to choose the best solution to a problem, through the process of listening and questioning. It is important to note that counseling is not a giving of opinion and it is based on a wellness model rather than a medical one.
A counselor’s basic concern should go beyond treating dysfunction or pathology. It should deal with a client’s self awareness which should help him towards personal growth and wellness.
Guidance
Guidance is defined as the act of guiding, giving leadership, supervision, direction or professional guidance for future actions. It is usually provided to students in preparation for a vocation.
Guidance helps a person discover and develop his psychological, vocational and educational potential in order to be happier and more useful in society. Each person is responsible for his decisions and actions, but when he is young he will need someone more mature and experienced to guide him through life and towards making the right decisions for himself.
Like counseling, it assists clients towards a decision or an appropriate course of action. It may be used as therapeutic aid in the treatment of minor emotional disturbances and disorders.
Summary
1. Counseling is a psychological field that deals with research and applied work to provide training and supervision, while Guidance is a psychological field that deals with assisting clients in their need to choose the right course of action.
2. While both are being used in organizations and by individuals, counseling has a broader reach, while Guidance is usually being used in schools to guide students towards proper actions.
3. Both can help in the treatment and rehabilitation of a person suffering from a mental illness or disorder, but counseling is more extensive than guidance.
4. Counseling encompasses several other fields of psychology, while Guidance tends to be more specific.

Counseling and Therapy

Counseling and Therapy

Remember

  • A counselor can help you understand your feelings and problems.
  • Finding a counselor who feels like the right fit can take time.
  • Effective counseling can give you skills to cope with the stresses of everyday life.
Sometimes it can be hard to cope with all of the changes that happen during your teenage years. If you are having trouble dealing with certain situations or emotions, you might find counseling to be a helpful way of sorting things out.

Why should I go to counseling?
If you are thinking about whether counseling could be helpful to you, here are some questions to ask yourself:
  • Do you ever feel really sad, frustrated, or lonely?
  • Do you feel especially angry, annoyed, or out-of-control?
  • Do you feel very anxious, worried, or guilty?
  • Have you experienced some major problems at home, at school, or in your neighborhood?
  • Have you noticed some changes in the way you sleep, eat, or think and feel about life?
  • Is it hard for you to talk about these feelings with your family or friends?
  • Are these feelings having a bad effect on your life-are they making your schoolwork and your relationships with family and friends difficult?
If you answered YES to any of these questions, then it may be a good idea for you to talk with a counselor (also known as a therapist). A therapist is an adult who has special training to help people sort through their different feelings and problems. Teenagers and young adults go to counseling for many reasons.

Counseling can help you to understand your feelings and problems and learn how to deal with them in your everyday life. You can expect that whatever you and your counselor discuss will remain confidential. Confidential means that the therapist cannot tell anyone, not even your parents, about what the two of you talk about without your permission. The exception to this rule is that if the counselor feels that you are in danger of hurting yourself or someone else, including being abused or neglected, he/she is obligated by law to break confidentiality in order to keep you safe.

How do I find a counselor?
Many professionals can help you find a counselor. You can ask your health care provider (doctor or nurse) for a referral in your clinic or neighborhood. You can also ask your guidance counselor at school to refer you to a counselor who deals with mental health issues. Sometimes counselors meet with students at school. You can also ask a teacher, youth advisor, clergy person, or parent or guardian to help you find a counselor. You may also want to check out mental health agencies in your area.

What types of counselors are there?
When you are referred for counseling, you may be referred to a psychiatrist, psychologist, social worker, psychiatric nurse practitioner, or mental health worker. All of these professionals are also referred to as therapists and are trained to understand feelings and behaviors and know ways to help people through difficult times. There are counselors in all the following disciplines who work with teenagers:
  • Psychiatrist- a medical doctor (M.D.) who has graduated from medical school, with extra training in psychiatry. A psychiatrist provides counseling and also can prescribe medications that can help depression, anxiety and other problems.
  • Psychologist- has graduated from college and graduate school and has the degree Ph.D., Psy.D., or Ed.D. A psychologist provides counseling and can also do special testing to understand certain problems such as learning disabilities.
  • Social Worker- a therapist who has graduated from college and graduate school, where she/he studied counseling. A social worker has the degree M.S.W. and the certification LCSW or LICSW. She/he provides counseling, often has a special understanding of how families work and may be able to connect people with services in their communities.
  • Psychiatric Nurse Practitioners (NP) – are nurses who have a master’s degree and a special certificate to specialize in mental health issues and counseling. They are able to prescribe medications that can help with depression, anxiety and other problems.
  • Mental health counselor (LMHC)- has graduated from college and is a licensed therapist who has special advanced training in counseling. Mental health counselors are often individual therapists or marriage and family counselors.
What will happen when I talk to a counselor?
When you talk with a counselor, you get a chance to talk about anything that is on your mind. They will listen to you and not judge you. You can talk about more serious things some of the time, and you can talk about less serious things at other times.

What should I expect from counseling?
When you decide to start talking with a counselor you should expect to meet with one person who will get to know you pretty well. You will build a relationship with your counselor during your meetings. Most counselors understand that it takes a lot of courage to go into counseling and often takes time to get used to talking and sharing in counseling! It's hard to tell on the first session if you feel comfortable enough with your counselor to talk about things that are important to you. Try to give the counselor a chance. If after a few visits you still don't feel okay about talking with the counselor, you should tell the person who referred you to your therapist. Most likely you will have a chance to choose another counselor. This is fine! It might take a few tries to find a counselor that you like, but don't give up. Since you will be talking about sensitive issues, you deserve to have a therapist who you feel totally safe and comfortable with.

What kinds of questions will the therapist/counselor ask me?
At the first visit, the counselor may ask you many questions about your life and how you've been feeling during the past year. He/she may want you to bring your parent(s) or guardian(s) with you on the first visit. The type of help you are offered by your counselor will depend on what you tell them and the kind of relationship that you develop. Teenagers often bring their family members or other significant people to some of their counseling sessions to help improve communication in those relationships.

How long will counseling last?
Counseling lasts different periods of time for different people. Your counselor will try to work with you to decide how the sessions will fit into your schedule. You might meet with your counselor once a week for as little as 30 minutes or as long as 60 minutes. Sometimes you might choose to meet with your therapist more often (2 or more days per week) or less often (every two weeks). You can continue meeting with your counselor for as long as you need help working out your problems. This could be 1 week, 6 weeks, 6 months, or even longer.

What else can I do?
In addition to going to counseling, there are many activities you can do on your own to try to work through difficult feelings and solve problems. You might want to try talking with a parent, good friend, or another adult in your life. You might try writing down your feelings in a journal or diary. Other things to try are relaxation exercises, listening to music, watching a good movie, or exercising. Also try getting involved in an activity that you are good at such as a sport, drama, music, or hobbies (such as writing or reading). The combination of doing activities you like to do and talking with a therapist will help to improve how you are feeling and make your everyday life much easier.

Written by the CYWH Staff at Children's Hospital Boston

guidance counselor educational

To become a guidance counselor, each state has certain educational requirements. Most states require a college degree plus one to two years of special study in guidance counseling. Some states may also require teaching experience. Personal characteristics are just as important as educational requirements when it comes to being a guidance counselor. You must have the capablities of being caring, patient, and open-minded, and to believe that everyone can change. One of a guidance counselor's main goals is to help students understand themselves so they can develop into adults who are capable of living productive and fulfilling lives.

Guidance counseling started about 100 years ago with caring teachers that helped their students plan for their future. By the early 1900's, students had more occupational and educational options so guidance counseling became a profession. Today's students opportunities are more varied but so are the problems and concerns of our society. Changes in our society seem to happen rapidly and the amount of new information people are expected to absorb seems to be growing just as quickly. All of these factors emphasize the need for trained guidance counselors to help students learn to lead meaningful and statisfying lifes.

Guidance counselors do so many things and provide such valuable information for a student who might be struggling with life choices. They can counsel students individually or sometimes in small groups. A guidance counselors job can range from leading a classroom discussion to administering placement tests. They also meet with students, parents, teachers, and other members of the school staff to discuss important issues. They also help students arrange their classroom schedules.



In elementary schools, guidance counselors try to anticipate problems that may occur in students lives and then try to prevent these problems from happening. Some elementary school counselors can work with the students in the gifted learning program or they can sometimes work with students with learning disabilities who have special needs. Counselors can work with a team that may include the school principal, a psychologist, an evaluator, a social worker, special-education teachers, and parents. At all times elementary school counselors work closely with parents, teachers, and school administrators.

In junior high schools, guidance counselors work with other school professionals to help identify the developmental and learning needs of students. Students at these grade levels experience many physical and emotional changes that can affect how they view themselves and how they perform in school.

At the high school level, guidance counselors are concerned with educational and career guidance while they also focus on the personal development of the students. High school counselors help students choose school courses and activities that relate to their interests which will prepare them for life after high school. They also show students how to apply for college or for job-training programs. Counselors can provide information on almost any topic and then help a student put this information to use in choosing the best future career path. Whether it is college or job training programs, counselors provide information for students who want to continue their education. They also have information about entrance requirements, financial-aid programs, and entry-level job opportunities in the areas where they might be attending school. Sometimes counselors work in drug and alcohol abuse programs as well as in the programs for high school dropouts or teenage parents.

Senin, 07 Februari 2011

psikologi pendidikan

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Pengertian Psikologi
Secara harafiah (Syah, 1997 / hal. 7)
Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu : psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa.

William James (Syah, 1997/ hal. 8) menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental

John B. Watson (Syah, 1997 / hal.8) mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.

Caplin (Syah, 1997 / hal. 8) mendefinisikan psikologi sebagai
“..... the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment”
(Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).

Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld (Sarwono dalam Syah, 1997 / hal.8) mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal.8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.

Syah (1997 / hal.9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

2. Pengertian Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Syah, 1997 / hal.10)
Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan

Menurut McLeod (Syah, 1997 / hal. 10)
Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop).
Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan

Tardif (Syah, 1997 / hal. 10)
Secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Secara luas dan representatif, pendidikan ialah .....the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan)

Menurut Dictionary of Psychology (Syah, 1997 / hal. 11)
Pendidikan diartikan sebagai ..... the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution.
Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya.
Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction)

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997 / hal. 11)
Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.

3. Pengertian Psikologi Pendidikan
Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
e. Penyenggaraan pendidikan keguruan

Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah ...... a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process.
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.

Tardif (Syah, 1997 / hal. 13)
Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.

Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13)
Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being.
Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.dan yang lainya referensi.
 

Psikologi pendidikan adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan adalah bidang yang sangat luas sehingga dibutuhkan satu buah bahasan tersendiri untuk menjelaskannya.
Awal mula munculnya psikologi pendidikan berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894). Beberapa kajian yang penting darinya adalah pertama, kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
Kedua, pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik. Ketiga, ia berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.
Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.
Mengajar : Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan
Seberapa ilmiahkah pendekatan mengajar yang dipakai seorang guru? Baik sains maupun seni dan pengalaman keahlian mengajar berperan penting bagi keberhasilan seorang guru. Bidang psikologi pendidikan banyak mengambil sumber teori dan riset psikologi yang lebih luas. Misalnya, teori perkembangan kognitif dan bicara dalam rangka memberikan informasi bagi guru tentang bagaimana mendidik anak.
Psikologi pendidikan juga banyak memanfaatkan teori dan riset yang disusun dan dilakukan langsung oleh para ahli psikologi pendidikan dan dari pengalaman praktis para guru. Misalnya, motivasi, mengajar dan pembelajaran yang seharusnya diterapkan dalam proses pendidikan. Ahli psikologi pendidikan juga mengakui bahwa mengajar terkadang harus mengabaikan saran-saran ilmiah, tetapi menggunakan improvisasi dan spontanitas.
Sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi pendidikan adalah memberi kita pengetahuan riset yang dapat secara efektif di aplikasikan untuk situasi mengajar. Tetapi, pengajaran kita tetap merupakan sebuah seni mengajar. Selain hal-hal yang bisa kita pelajari dari riset, kita juga akan terus-menerus membuat penilaian penting di kelas berdasarkan keahlian dan pengalaman pribadi kita, dan juga berdasarkan saran yang bijak dari guru-guru lain yang lebih berpengalaman.
Daftar Pustaka:
santrock, W John. 2004. Educational Psychology: 2nd Edition. McGraw-Hill Company, inc.
 

psikologi perkembangan


BAB I

1.Latar Belakang
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi individu, baik sebelum
maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku J.P. Chaplin, 1979) psikologi
perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik setiap fase-fase
perkembangan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk mengetahui karakteristik
perkembangan fase remaja, hal-hal apa saja yang mempengaruhi psikologi perkembangan
pada fase remaja, serta problematika pacaran pada masa remaja, maka dengan ini penulis
mengambil judul REMAJA DAN PACARAN
untuk makalah ini. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mandiri
yang diberikan oleh dosen mata kuliah psikologi perkembangan serta bertujuan untuk
memenuhi atau menjawab rasa penasaran yang begitu kuat untuk mengetahui lebih dalam
tentang remaja and pacaran.
2.Batasan Masalah
Psikologi perkembangan adalah ilmu yang luas yang saling berkesinambungan antara
setiap fase-fase perkembangan agar masalah penelitian leih terfokus kepada tujuan
penelitian dan tidak terlalu luas, maka dengan ini penulis membatasi masalah penelitian
hanya pada ruang lingkup Remaja dan pacaran saja.
3.Identifikasi Masalah
Dalam hal ini penulis mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1.Pengertian psikologi perkembangan
2.Karakteristik perkembangan fase remaja
3.Pembahasan atau analisis data yang diperoleh tentang pacaran.
4.Metode Penelitian
Pada makalah ini penulis menggunakan metode deskripsi untuk menggambarkan masalah
penelitian. Adapun azas teknik pengumpulan data yang
dilakukan penulis adalah sebagai berikut:
1.Penelitian lapangan, merupakan penelitian dengan cara melakukan penelitian langsung
ke lapangan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan dari objek penelitian,
hal ini dilakukan dengan cara membagikan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan
tentang masalah penelitian.
2.Penelitian kepustakaan atau library research yang dilakukan dengan cara
mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada
hubungannya dengan masalah yang diteliti
3.Metode analisa kualitatif dan kuantitatif yaitu dengan cara menganalisa data dengan
menggunakan uraian-uraian angka atau kalimat yang berdasarkan teori disertai dengan
penjelasan dalam pemecahan masalah yang dapat melengkapi kesimpulan yang
diharapkan.
BAB II
1.Pengertian psikologi perkembangan dan makna remaja
a.Pengertian psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses
perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan
perilaku. ( J.P. Chaplin, 1979 ).
Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan
tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa
konsepsi sampai mati. ( Ross Vasta. dkk, 1992 ).
b.Makna remaja
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh
pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan
dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta
kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).
Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk
menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang
merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa
dewasa. Biasanya remaja belum dianggap sebagai anggota masyarakat yang perlu
didengar dan dipertimbangkan pendapatnya serta dianggap bertanggung jawab atas
dirinya. Terlebih dahulu mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
kapasitas tertentu, serta mempunyai kemantapan emosi, sosial dan kepribadian. Dalam
pandangan Islam seorang manusia bila telah akhil baligh, maka telah bertanggung jawab
atas setiap perbuatannya. Jika ia berbuat baik akan mendapat pahala dan apabila
melakukan perbuatan tidak baik akan berdosa. Masa remaja merupakan masa dimana
timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan
fisik yang lebih jelas dan daya fakir menjadi matang. Namun masa remaja penuh dengan
berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk
harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan
perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang.
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan
masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang
yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam
masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif,
kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang
mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini
memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang
kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali
dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut
Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15 tahun; (b)
remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22 tahun. Sementara Salzman
mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung
(dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat
seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”,
frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun te
ntang
cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa
(Lustin Pikunas, 1976).
2.Ciri-Ciri Masa Remaja
1.Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke
peralihan masa dewasa.
2.Masa remaja sebagai periode perubahan.
3.Masa remaja sebagai usia bermasalah.
4.Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
5.Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian
diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian
diri.
6.Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
7.Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong
kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan
perhatiannya terpusat pada dirinya.
3.Alasan-Alasan Yang Umum Untuk Berpacaran Selama Masa Remaja
1.Hiburan
Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar pasanganya
mempunyai berbagai keterampilan sosial yang dianggap penting oleh kelompok sebaya,
yaitu sikap baik hati dan menyenangkan
2.Sosialisasi
Kalau anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan kencan, maka
laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin menjadi anggota kelompok
dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok
3.Status
Berkencan bagi laki-laki dan perempuan, terutama dalam bentuk berpasangan tetap,
memberikan status dalam kelompok sebaya, berkencan dalam kondisi demikian
merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam kelompok sebaya.
4.Masa Pacaran
Dalam pola pacaran, berkencan berperan penting karena remaja jatuh cinta dan berharap
serta merencanakan perkawinan, ia sendiri harus memikirkan Sungguh-sungguh masalah
keserasian pasangan kencan sebagai teman hidup.
5.Pemilihan Teman Hidup
Banyak remaja yang bermaksud cepat menikahi memandang kencan sebagai cara
percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.
4.Kebutuhan Remaja
1.Kebutuhan akan pengendalian diri
2.Kebutuhan akan kebebasan
3.Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4.Kebutuhan akan penerimaan sosial
5.Kebutuhan akan penyesuaian diri
6.Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial
5.Berbagai konflik yang dialami oleh remaja
1.Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan
merdeka
2.Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada
orang tua.
3.Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.
4.Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu
dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam
kehidupan sehari-hari.
5.Konflik menghadapi masa depan.
6.Tugas-tugas perkembangan remaja
William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut :
a.Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b.Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas.
c.Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan
teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok.
d.Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e.Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
f.Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai.
Prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
g.Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.
7.Masa-Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya
dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang
dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut.
1)Masa praremaja (remaja awal)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini
ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa
negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan
sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a)
negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative
dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun
dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
2)Masa remaja (remaja madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorong untuk hidup, kebutuhan akan
adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut
merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat
dipandang menilai, pantas dijunjung tinggi dan di puja-puja sehingga masa ini disebut
masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai dewa remaja.
Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita hidup itu dapat di
pandang sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan nilai-nilai kehidupan
tersebut adalah pertama, karena tiadanya pedoman, si remaja pedoman, si remaja
merindukan sesuatu bayang dianggap bernilai, pantas dipuja walau pun sesuatu yang
dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya
mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang
diinginkannya. Kedua objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi
yang dipandang mendukung nilai-nilai tertentu (jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak
laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif,
mengagumi, dan memujanya dalam khayalan.
3)Masa remaja akhir
Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa
remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu
menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
4)Masa Usia Kemahasiswaan
Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat
digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya.
Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah
pemantapan pendirian hidup.
8.Karakteristik Perkembangan Remaja
Seiring perkembangan dan pertumbuhan fisik, terjadi pula perubahan dan perkembangan
di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak-kanaknya telah berakhir, berganti dengan kelenjar
endokrin yang memproduksi hormon, sehingga menggalakan Pertumbuhan organ seks
yang tumbuh menuju kesempurnaan.
Organ seks menjadi besar disertai dengan kemampuannya untuk melaksanakan
fungsinya. Pada remaja putri terjadi pembesaran payudara dan pembesaran pinggul. Di
samping itu meningkat pula dengan cepat berat dan tinggi badan. Sedangkan pada remaja
pria mulai kelihatan (membesar) jakun di lehernya dan suara menjadi sengau / besar. Di
samping itu bahunya bertambah lebar dan mulai tumbuh bulu di ketika dan di atas bibir
atasnya (kumis). Satu tanda Kematangan seksual dengan jelas pada remaja putri tetapi
hanya diketahui oleh yang bersangkutan saja, yaitu terjadinya datang bulan / haid dan
pada remaja putera mimpi basah. Tanda-tanda permulaan Kematangan seksual tidak
berarti bahwa secara langsung terjadi kemampuan reproduksi.
9.Penyimpangan atau Kenakalan Remaja
1.Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
2.Kecanduan akan Narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS
3.Kecanduan Alkohol / minuman keras.
4.Tawuran.
5.Sering berkunjung ke diskotik.
6.Menjajakan diri kepada pria hidung belang.
10.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang Pada Remaja
1.Kelalaian orangtua dalam mendidik anak (memberikan ajaran dan bimbingan tentang
nilai-nilai agama).
2.Sikap perilaku orangtua yang buruk terhadap anak.
3.Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir).
4.Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas.
5.Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
6.Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno.
7.Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga).
8.Perceraian orangtua.
9.Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol.
10.Hidup menganggur.
11.Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.
12.Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan
nilai-nilai moral).
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dalam ajaran Islam sesungguhnya istilah pacaran itu tidak ada, yang ada hanyalah istilah
ta’aruf yaitu perkenalan antara calon istri dan calon suami. Tetapi mungkin disebabkan
oleh semakin berkembangnya teknologi sehingga pergaulan semakin luas dan
berkembang sehingga banyak orang yang setuju dengan pacaran. Hal ini juga mungkin
disebabkan karena Indonesia bukan negara Islam, sehingga peraturan / hukum-hukum
islam di Indonesia tidak begitu kuat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti
di negara Islam lainnya seperti Arab Saudi. Serta tuntutan dan perkembangan zaman yang
membuat sistem /cara didik dan pergaulan pada zaman “Siti Nurbaya” tidak bisa
diterapkan lagi dalam kehidupan zaman sekarang.
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dengan cara membagikan angkat yang berisi
pertanyaan-pertanyaan tentang masalah penelitian kepada 50 responden, dapat
disimpulkan bahwa :
1.Sebagian besar responden menyatakan setuju hingga pacaran.
2.Sebagian besar responden menyatakan pernah mempunyai pacar atau berpacaran.
3.Sebagian besar responden menyatakan sedang tak mempunyai pacar saat ini (periode
2008).
4.Sebagian besar responden menyatakan pertama kali mempunyai pacar pada usia < 17
tahun. Hal ini sangat beresiko sekali, karena umur <17 tahun adalah umur yang sangat
rentan dan labil terjerumus ke dalam hal-hal yang sifatnya negatif serta masih kurangnya
daya kontrol untuk mengontrol diri, emosi nafsunya.
B.Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan kepada 50 responden, penulis menyadari
bahwa ada perbedaan prinsip hidup, penulis sangat menghargai kepada mahasiswa atau
responden yang menyatakan tak setuju hingga pacaran dan yang menyatakan setuju
hingga pacaran. Maka dengan ini, penulis ingin memberikan saran-saran kepada pembaca
yang mungkin bisa bermanfaat, diantaranya:
1.Bagi responden mahasiswa yang menyatakan tak setuju hingga pacaran, dapat
melakukan ta’aruf kepada calon suami atau istri.
2.Bagi responden atau mahasiswa yang menyatakan setuju hingga pacaran diharapkan
agar bisa menjaga kelancaran kuliahnya, jadikan pacaran sebagai motivasi atau
penyemangat untuk berprestasi dalam bidang pendidikan.
3.Jadikan agama dan keimanan sebagai alat untuk membatasi atau mengontrol diri dalam
berpacaran agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas atau seks bebas.
4.Bagi mempunyai pacar diharapkan untuk bisa menjaga diri, kehormatan kesucian dan
nama baik dirinya sendiri, keluarga, agama, almamater dan daerah asalnya serta
bangsanya